Menu

Dark Mode
PM Jepang Temui Trump di AS, Bahas Keamanan Global hingga Investasi Triliunan Yen Jepang Perpanjang Masa Pakai Kartu Asuransi Lama hingga Juli 2026 Turis Asing ke Jepang Tembus Rekor Baru, Korea Selatan & Taiwan Jadi Penyumbang Terbesar Suku Bunga Jepang Ditahan di 0,75%, Konflik Timur Tengah Jadi Faktor Utama Jepang Luncurkan Kereta Khusus Turis Asing Bisa Nikmati View Gunung Fuji Sepanjang Perjalanan Anime The Dangers in My Heart Dipastikan Lanjut Season 3, Tayang 2027

Culture

💼 Kenapa Banyak Orang Jepang Menjadi ‘Salaryman’ Seumur Hidup?

badge-check


					💼 Kenapa Banyak Orang Jepang Menjadi ‘Salaryman’ Seumur Hidup? Perbesar

Dalam budaya kerja Jepang, istilah “salaryman” mengacu pada pria pekerja kantoran yang bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan. Tapi bukan cuma soal pekerjaan — menjadi salaryman di Jepang sering kali berarti mengabdikan diri seumur hidup untuk satu perusahaan. Kenapa bisa begitu?


🏢 1. Sistem “Shūshin Koyō” – Pekerjaan Seumur Hidup

Salah satu akar budaya salaryman berasal dari sistem shūshin koyō (終身雇用) atau lifetime employment. Sistem ini mulai populer setelah Perang Dunia II, di mana perusahaan besar Jepang merekrut lulusan muda dan mempekerjakan mereka sampai pensiun.
Sebagai imbalannya, perusahaan memberi stabilitas, gaji bertahap naik, dan pensiun yang layak.

Prinsipnya: Loyalitas dibayar dengan jaminan hidup.


🧱 2. Budaya Loyalitas dan Senioritas

Dalam banyak perusahaan Jepang, naik jabatan bukan soal kemampuan saja, tapi masa kerja dan senioritas. Semakin lama kamu bertahan, semakin tinggi posisi dan penghormatan yang kamu dapat.

Inilah sebabnya banyak orang Jepang enggan pindah kerja — keluar dari perusahaan berarti memulai dari nol, termasuk gaji dan posisi.


🤝 3. Tekanan Sosial dan Rasa Malu

Dalam masyarakat Jepang yang menekankan keselarasan sosial, menjadi salaryman dipandang sebagai bukti keseriusan dan tanggung jawab.
Orang yang sering pindah kerja atau keluar dari sistem ini sering dianggap tidak stabil atau tidak “dewasa”. Bahkan sampai hari ini, status sebagai salaryman masih punya citra “ideal” di mata generasi tua.


📉 4. Apakah Sistem Ini Masih Relevan?

Belakangan ini, budaya ini mulai berubah. Generasi muda Jepang mulai:

  • Lebih terbuka terhadap freelance, startup, atau pekerjaan paruh waktu

  • Merasa tidak ada jaminan lagi, karena perusahaan pun sekarang bisa memecat

  • Ingin work-life balance, bukan sekadar bekerja hingga larut malam

Tapi meski begitu, banyak perusahaan besar di Jepang masih mempertahankan budaya salaryman, terutama di sektor keuangan, manufaktur, dan teknologi.

Bagi banyak orang Jepang, menjadi salaryman bukan sekadar bekerja — tapi bagian dari identitas sosial dan jaminan masa depan. Meski tren baru mulai muncul, budaya loyalitas dan stabilitas kerja masih kuat di Jepang hingga kini.

Kalau kamu kerja di Jepang, apakah kamu akan ikut jalan salaryman atau memilih jalur yang lebih bebas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture