1.000 Perusahaan Bangkrut Karena Virus Terus Merajalela di Jepang

Penghitungan terbaru oleh lembaga pelaporan kredit menunjukkan, sebanyak 1.000 perusahaan kini telah bangkrut di Jepang karena pandemi COVID-19.

Angka tersebut termasuk perusahaan yang bersiap untuk mengajukan kebangkrutan dan mereka yang memiliki hutang kurang dari 10 juta yen (Rp 1,3 Miliar), menurut data yang dirilis pada 2 Februari oleh Tokyo Shoko Research Ltd.

Perusahaan dengan kurang dari lima karyawan menyumbang sekitar setengah dari kebangkrutan karena pandemi, sementara hanya 5% atau lebih yang diajukan oleh mereka yang memiliki 50 karyawan atau lebih.

Dukungan keuangan pemerintah telah membantu bisnis kecil tetap bertahan. Tetapi kondisi bisnis mereka kemungkinan akan tetap sulit karena perpanjangan satu bulan keadaan darurat diumumkan pada 2 Februari untuk 10 prefektur, termasuk Tokyo.

Banyak perusahaan telah berhasil menunda pernyataan kebangkrutan berkat pinjaman tanpa jaminan yang suku bunganya hampir nol dan pemberian uang tunai yang diberikan oleh pemerintah, menurut Tokyo Shoko Research.

Kebangkrutan pertama akibat dampak krisis COVID-19 diajukan pada akhir Februari tahun lalu. Jumlah kasus kebangkrutan terkait pandemi meningkat menjadi 500 pada pertengahan September dan sekitar empat bulan kemudian telah mencapai 1.000.

Berdasarkan jenis usaha, kebangkrutan terbanyak terjadi pada industri restoran yaitu 182, disusul 83 sektor konstruksi dan 62 industri perhotelan dan penginapan. Data menunjukkan sektor jasa paling terpukul oleh pandemi karena penurunan jumlah turis asing ke Jepang dan perintah stay at home oleh pihak berwenang.

Berdasarkan prefektur, 247 dari kebangkrutan terjadi di Tokyo, diikuti oleh 94 di Osaka dan 55 di Kanagawa. Hanya sembilan dari 47 prefektur di negara itu yang memiliki kurang dari lima kebangkrutan, dengan Yamanashi melaporkan yang terendah yaitu hanya satu.

Sc: Asahi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here