Menu

Dark Mode
Harga Japan Rail Pass Naik Lagi Mulai Oktober 2026, Ini Rinciannya Light Novel Arafō Kenja no Isekai Seikatsu Nikki Resmi Dapat Adaptasi Anime Robot AI Tenis Meja Buatan Sony Mampu Saingi Kemampuan Atlet Profesional Jepang Mulai Jual Senjata ke Luar Negeri, Indonesia Bakal Jadi Target Market? Film Live-Action BLUE LOCK Rilis Trailer Baru, Tayang 7 Agustus Kereta Shinkansen Tertunda 3 Menit, Petugas Ketiduran di Ruang Istirahat

Culture

Kenapa Kimono Tidak Lagi Dipakai Sehari-hari di Jepang?

badge-check


					Kenapa Kimono Tidak Lagi Dipakai Sehari-hari di Jepang? Perbesar

Ketika mendengar kata “Jepang”, banyak orang langsung membayangkan kimono—pakaian tradisional dengan pola indah, obi (ikat pinggang lebar), dan siluet anggun. Namun, kalau kamu berjalan-jalan di Tokyo atau Osaka hari ini, kamu akan jarang sekali melihat orang Jepang memakai kimono sehari-hari. Lalu, kenapa pakaian yang begitu ikonik ini tidak lagi dipakai dalam kehidupan sehari-hari?


1. Perubahan Sejak Era Modernisasi

Peralihan besar terjadi pada Era Meiji (1868–1912). Saat Jepang membuka diri terhadap dunia Barat, pemerintah mendorong rakyatnya untuk memakai busana bergaya Barat sebagai simbol modernitas. Celana panjang, jas, dan gaun dianggap lebih praktis untuk bekerja, terutama bagi pegawai pemerintahan dan pekerja kantoran. Dari sinilah pakaian Barat mulai menggantikan kimono dalam aktivitas sehari-hari.


2. Praktis vs. Ribet

Kimono memang indah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa cara memakainya cukup rumit. Dibutuhkan beberapa lapisan kain, ikatan obi yang harus diatur dengan benar, dan kadang memerlukan bantuan orang lain. Berbeda dengan pakaian modern yang lebih cepat dan praktis dipakai.

Bagi masyarakat modern yang sibuk, jas, seragam, atau pakaian kasual jauh lebih efisien dibanding kimono.


3. Biaya yang Tidak Murah

Kimono berkualitas tinggi bisa sangat mahal, terutama jika dibuat dari sutra dan dikerjakan dengan teknik tradisional. Bahkan menyewanya saja bisa menguras kantong. Karena itu, kimono lebih sering dipakai untuk acara khusus, bukan untuk sehari-hari.


4. Fungsi Kini: Pakaian Formal dan Seremonial

Meskipun tidak lagi dipakai setiap hari, kimono masih memiliki tempat penting dalam budaya Jepang. Biasanya kimono dipakai pada momen-momen spesial, seperti:

  • Pernikahan

  • Upacara kedewasaan (Seijin Shiki)

  • Festival tradisional (Matsuri)

  • Wisuda atau upacara formal

Dengan begitu, kimono tetap hidup sebagai simbol budaya, meski tidak lagi hadir di keseharian.


5. Kembalinya Kimono dalam Gaya Modern

Menariknya, generasi muda Jepang mulai menghidupkan kembali kimono dengan gaya baru. Ada yang memadukannya dengan sepatu sneakers, ada juga kafe atau tempat wisata yang menyediakan jasa penyewaan kimono agar pengunjung bisa merasakan budaya tradisional. Jadi, meskipun sudah tidak dipakai sehari-hari, kimono masih relevan dengan cara yang lebih modern.


Kimono mungkin sudah jarang dipakai untuk aktivitas sehari-hari karena alasan praktis, biaya, dan modernisasi, tetapi perannya tetap penting dalam menjaga identitas budaya Jepang. Ia bukan hanya sekadar pakaian, melainkan warisan budaya yang dihormati dan dirayakan di momen-momen spesial.

Jadi, meskipun di jalanan Jepang kita lebih sering melihat orang memakai jas atau pakaian kasual, kimono akan selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture