Menu

Dark Mode
Manga One-Shot Perdana Kreator Gintama “Dandelion” Dapat Adaptasi Anime, Tayang April di Netflix PM Jepang Sanae Takaichi Tegaskan Tolak Perubahan Aturan Suksesi Kekaisaran Jepang Batasi Power Bank di Pesawat Maksimal Dua per Penumpang, Dilarang Digunakan Saat Terbang Kagoshima Subsidi Penuh Tiket Shinkansen untuk Turis Asing, Tuai Kritik Publik Film Anime Perdana Chiikawa Tayang 24 Juli, Angkat Arc “Pulau Putri Duyung” Drama Live-Action Solitary Gourmet Umumkan Season 11, Tayang April 2026

Culture

Nōkanshi: Profesi Sunyi yang Menjaga Martabat di Akhir Hayat di Jepang

badge-check


					https://x.com/Mulboyne Perbesar

https://x.com/Mulboyne

Di balik ketertiban dan kesopanan masyarakat Jepang, ada satu profesi yang jarang dibicarakan secara terbuka, namun memegang peran penting dalam momen paling sensitif dalam hidup manusia: kematian. Profesi itu disebut Nōkanshi (納棺師), yakni orang yang bertugas mempersiapkan jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti mati.

Meski terdengar berat, bagi orang Jepang, pekerjaan ini bukan sekadar teknis, melainkan bagian dari ritual penghormatan terakhir.


Apa Itu Nōkanshi?

Secara harfiah, nōkan berarti “memasukkan ke dalam peti”, dan shi berarti “orang yang melakukan”. Nōkanshi adalah profesional yang bertugas:

Semua dilakukan dengan tenang, sopan, dan penuh rasa hormat, sering kali di hadapan keluarga yang berduka.


Bukan Sekadar Merias, Tapi Ritual Perpisahan

Berbeda dengan sekadar perawatan jenazah medis, pekerjaan nōkanshi sarat dengan nilai simbolik. Setiap gerakan dilakukan perlahan dan penuh makna, seolah memberi waktu bagi keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal secara emosional.

Dalam banyak kasus:

  • Wajah jenazah dirias agar tampak damai

  • Luka atau bekas penyakit ditangani secara hati-hati

  • Pakaian dipilih sesuai keinginan keluarga atau kepercayaan almarhum

Tujuannya bukan “mempercantik”, melainkan mengembalikan martabat manusia hingga akhir hayat.


Mengapa Profesi Ini Jarang Dibahas?

Dalam budaya Jepang, kematian sering dianggap sebagai topik yang tidak dibicarakan secara terbuka. Ada rasa enryo (menahan diri) dan kehati-hatian agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Selain itu:

  • Profesi yang berkaitan dengan kematian dulu sering distigma

  • Ada sejarah diskriminasi terhadap pekerjaan “tidak bersih”

  • Banyak keluarga lebih memilih proses yang tenang dan privat

Namun, seiring waktu, pandangan ini perlahan berubah.


Filosofi di Balik Pekerjaan Nōkanshi

Nōkanshi bekerja dengan prinsip bahwa jenazah tetaplah manusia, bukan benda. Oleh karena itu:

  • Tidak ada gerakan kasar

  • Tidak ada sikap tergesa-gesa

  • Tidak ada perlakuan yang merendahkan

Filosofi ini sejalan dengan pandangan Jepang tentang kehormatan, kesopanan, dan tanggung jawab sosial, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.


Mulai Dikenal Lewat Film dan Media

Profesi nōkanshi mulai dikenal publik secara luas setelah munculnya film Jepang “Okuribito” (Departures), yang menggambarkan kehidupan seorang perias jenazah dengan pendekatan yang manusiawi dan menyentuh.

Film ini mengubah cara pandang banyak orang Jepang:

  • Dari rasa takut menjadi rasa hormat

  • Dari stigma menjadi pemahaman

  • Dari diam menjadi apresiasi

Sejak saat itu, profesi nōkanshi mulai dibicarakan dengan lebih terbuka.


Antara Tradisi dan Modernitas

Di Jepang modern, nōkanshi bekerja berdampingan dengan teknologi dan prosedur medis. Namun, unsur tradisi tetap dipertahankan:

  • Gestur sopan

  • Bahasa yang halus

  • Sikap tubuh yang tenang

Hal ini menunjukkan bagaimana Jepang mampu memadukan modernitas dengan nilai-nilai tradisional, bahkan dalam urusan kematian.


Nōkanshi mungkin bukan profesi yang sering dibahas, tetapi perannya sangat penting. Mereka membantu keluarga melewati momen perpisahan dengan lebih tenang, bermartabat, dan manusiawi.

Di Jepang, menghormati orang tidak berhenti saat hidup berakhir. Melalui tangan nōkanshi, nilai kesopanan dan empati tetap hadir—bahkan hingga detik terakhir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture