Hokkaido, prefektur paling utara, paling dingin, dan paling bersalju di Jepang, dikenal sebagai salah satu destinasi ski dan snowboarding kelas dunia. Reputasi tersebut menarik penggemar olahraga salju dari berbagai negara, terutama di tengah lonjakan wisatawan asing ke Jepang yang didorong oleh pelemahan nilai yen dan tren perjalanan internasional yang terus meningkat.
Namun, bukan hanya lintasan ski resmi yang menjadi daya tarik. Banyak wisatawan asing tergoda untuk bermain ski di luar area yang telah ditentukan atau off-piste. Sayangnya, rasa ingin tahu tersebut sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan dan pemahaman medan, sehingga berujung pada kasus tersesat, cedera, terjebak, atau membutuhkan evakuasi darurat. Musim ini, lebih dari 80 persen penyelamatan ski di luar jalur di Hokkaido melibatkan warga negara asing.
Menurut data Kepolisian Prefektur Hokkaido, antara akhir November hingga 2 Februari, tercatat 58 pemain ski dan snowboarder off-piste harus diselamatkan. Dari jumlah tersebut, 48 orang atau sekitar 82,8 persen merupakan wisatawan asing.
Angka ini memicu reaksi keras di kalangan masyarakat Jepang. Keresahan tersebut muncul tidak lama setelah serangkaian kasus penyelamatan pendaki asing di Gunung Fuji tahun lalu, termasuk satu insiden di mana seorang pendaki membutuhkan bantuan darurat dua kali dalam satu minggu, meski jalur pendakian saat itu secara resmi ditutup.
Di sisi lain, warga lokal juga merasakan dampak ekonomi dari pariwisata massal. Harga restoran, hotel, dan berbagai fasilitas di sekitar area ski dinilai semakin mahal karena menyasar wisatawan asing dengan daya beli tinggi. Hal ini membuat penduduk setempat, yang tidak diuntungkan oleh nilai tukar mata uang, merasa terpinggirkan. Ketika dana pajak kemudian digunakan untuk menyelamatkan orang-orang yang dianggap sengaja melanggar aturan, kemarahan publik pun semakin memuncak.
Biaya operasi penyelamatan sendiri sangat bergantung pada pihak yang terlibat. Jika dilakukan oleh kepolisian atau pemadam kebakaran, tidak ada biaya langsung yang dibebankan kepada orang yang diselamatkan karena kedua lembaga tersebut merupakan layanan publik. Dalam kasus seperti ini, pemain ski yang berada di area terlarang tetap dievakuasi tanpa dikenakan biaya pribadi.
Namun, tidak semua operasi penyelamatan ditangani oleh aparat pemerintah. Di beberapa resor ski, terutama yang beroperasi di kawasan taman nasional, penyelamatan dilakukan oleh patroli sipil yang dipekerjakan oleh pihak resor. Biayanya bisa sangat mahal. Di salah satu resor di kota Furano, tarif penyelamatan mencapai 20.000 yen per jam per personel, ditambah 50.000 yen per jam jika menggunakan snowmobile. Sebuah operasi penyelamatan malam hari yang berlangsung selama tiga jam baru-baru ini menghasilkan tagihan lebih dari satu juta yen bagi pemain ski yang tersesat.
Jika hanya melibatkan polisi dan pemadam kebakaran, seluruh biaya harus ditanggung oleh pemerintah daerah. Kondisi ini menimbulkan tekanan anggaran, yang berpotensi berujung pada pemotongan layanan publik lain atau kenaikan pajak bagi warga lokal.
Tak heran jika komentar bernada keras bermunculan di internet Jepang. Banyak yang menilai penyelamatan tersebut sebagai pemborosan uang pajak, bahkan menyerukan agar wisatawan asing yang melanggar aturan diwajibkan membayar biaya penyelamatan sendiri, memiliki asuransi khusus, atau dikenai denda berat.
Perlu ditekankan bahwa kemarahan publik ini tidak ditujukan pada risiko alami olahraga ski itu sendiri. Masyarakat Jepang memahami bahwa kecelakaan bisa terjadi. Yang menjadi sorotan adalah keputusan sadar untuk mengabaikan aturan keselamatan yang telah dibuat, serta beban finansial yang harus ditanggung publik di tengah kenaikan harga kebutuhan hidup yang jauh melampaui pertumbuhan upah.
Setelah kasus-kasus penyelamatan di Gunung Fuji tahun lalu, seruan agar pelanggar aturan keselamatan menanggung sendiri biaya penyelamatan semakin menguat. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pemerintah daerah di Hokkaido akan mulai mempertimbangkan kebijakan serupa, terutama jika perilaku wisatawan yang tidak tertib terus mengganggu kehidupan masyarakat setempat.
Sc : JT








