Menu

Dark Mode
Anime Tempal: Item no Chikara Ungkap Trailer Ketiga dan Dua Pengisi Suara Baru Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun Pemprov Tokyo Pertimbangkan Larangan Buang Sampah Sembarangan Board Game Naruto Shippuden Battle Resmi Dibuka untuk Crowdfunding Topan Dujuan Berpotensi Dekati Tokyo pada Senin, Ganggu Perjalanan Liburan Jepang Mulai Diskusikan Buka Pekerjaan Satpam untuk Warga Asing

News

Jumlah Bunuh Diri di Jepang Turun di Bawah 20 Ribu pada 2025, Namun Kasus di Kalangan Pelajar Masih Tinggi

badge-check


					Jumlah Bunuh Diri di Jepang Turun di Bawah 20 Ribu pada 2025, Namun Kasus di Kalangan Pelajar Masih Tinggi Perbesar

Data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang berdasarkan statistik Badan Kepolisian Nasional Jepang menunjukkan bahwa jumlah kasus bunuh diri di Jepang pada tahun 2025 tercatat sebanyak 19.097 orang. Angka ini turun 1.223 kasus dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1978, jumlah bunuh diri di Jepang berada di bawah angka 20.000.

Berdasarkan jenis kelamin, terdapat 13.117 laki-laki dan 5.980 perempuan yang meninggal akibat bunuh diri. Sementara itu, tingkat bunuh diri—yang dihitung per 100.000 penduduk—turun 1,0 poin menjadi 15,4.

Alasan paling umum bunuh diri pada 2025 adalah masalah kesehatan, yang tercatat sebagai faktor pada 11.293 kasus. Faktor berikutnya adalah masalah ekonomi atau mata pencaharian dengan 5.359 kasus, serta masalah keluarga sebanyak 4.198 kasus.

Dilihat dari kelompok usia, jumlah tertinggi terjadi pada usia 50-an dengan 3.732 kasus, disusul usia 40-an sebanyak 2.951 kasus. Hampir semua kelompok usia mengalami penurunan, kecuali kelompok di bawah 20 tahun. Penurunan yang cukup besar tercatat pada kelompok laki-laki usia lanjut.

Kasus bunuh diri di kalangan pelajar dan mahasiswa secara keseluruhan turun 3 kasus menjadi 1.074. Namun, jumlah bunuh diri di kalangan siswa SD, SMP, dan SMA justru naik 3 kasus menjadi 532, angka tertinggi sejak data pertama kali dikumpulkan pada 1980. Dari jumlah tersebut, anak perempuan (277 orang) kembali lebih banyak dibanding anak laki-laki (255 orang) untuk tahun kedua berturut-turut.

Jumlah bunuh diri pelajar sebelumnya berada di kisaran 300–400 kasus dari 2011 hingga sebelum pandemi COVID-19. Angka tersebut melonjak menjadi 499 kasus pada 2020, dan meskipun pandemi telah berakhir, jumlahnya masih bertahan di sekitar 500 kasus per tahun.

Secara wilayah, jumlah bunuh diri menurun di 40 dari 47 prefektur di Jepang. Prefektur dengan tingkat bunuh diri tertinggi adalah Yamanashi dengan angka 21,4, diikuti Niigata (20,2) dan Aomori (19,6). Sementara itu, tingkat terendah tercatat di Tottori (10,7), Ishikawa (12,5), dan Kyoto (12,7).

Kementerian Kesehatan Jepang menyatakan bahwa dalam banyak kasus, bunuh diri dipicu oleh masalah sosial yang sebenarnya dapat dicegah. Pemerintah pun mendorong upaya pencegahan secara menyeluruh yang melibatkan sektor kesehatan, medis, kesejahteraan, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Pemerintah juga menyediakan situs khusus berisi layanan bantuan, termasuk hotline telepon dan konsultasi melalui media sosial seperti LINE.

Selain itu, situs Children and Families Agency turut menyediakan halaman khusus agar anak-anak lebih mudah menemukan layanan bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Sc : nippon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 31 Tahun

19 September 2026 - 12:10 WIB

Pemprov Tokyo Pertimbangkan Larangan Buang Sampah Sembarangan

19 September 2026 - 10:10 WIB

Topan Dujuan Berpotensi Dekati Tokyo pada Senin, Ganggu Perjalanan Liburan

18 September 2026 - 10:10 WIB

Jepang Mulai Diskusikan Buka Pekerjaan Satpam untuk Warga Asing

18 September 2026 - 06:31 WIB

Jumlah Lansia Berusia 100 Tahun ke Atas di Jepang Capai Rekor 107.677 Orang

16 September 2026 - 13:30 WIB

Trending on News