Hampir 30 persen pemerintah daerah di Jepang telah mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) generatif di tempat kerja hingga Desember tahun lalu, menurut survei pemerintah yang dirilis pada Kamis. Peningkatan ini terjadi di tengah harapan bahwa teknologi tersebut dapat meningkatkan efisiensi kerja, terutama sebagai respons terhadap kekurangan tenaga kerja.
Menurut Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang, jika termasuk pemerintah daerah yang sedang merencanakan atau mempertimbangkan serius penggunaan AI generatif, totalnya mencapai 50,8 persen—naik lebih dari 10 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.
Dari 1.721 pemerintah daerah yang disurvei, sebanyak 28,8 persen menyatakan sudah menggunakan AI generatif, naik 19,4 poin dari tahun sebelumnya. Penggunaan yang paling umum (jawaban berganda diperbolehkan) termasuk untuk “menyusun pidato” dan “meringkas notulen rapat.”
Sementara itu, 21,5 persen responden menyatakan tidak memiliki rencana untuk memperkenalkan AI generatif di tempat kerja.
Namun, sekitar 1.000 pemerintah daerah—termasuk yang mempertimbangkan penggunaan—belum menetapkan pedoman penggunaan AI. Para ahli mengkhawatirkan kemungkinan bias dalam hasil AI dan dampak negatifnya terhadap manajemen administrasi.
Sebagai bagian dari upaya pengembangan aturan yang sesuai, kementerian berencana menyusun laporan tentang kondisi penggunaan AI di pemerintah daerah dan tantangan terkait, yang dijadwalkan rilis paling cepat musim panas tahun ini.
Sc : mainichi







