Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, mengecam keras serangan Israel terhadap target nuklir dan militer Iran, menyebutnya sebagai tindakan yang “tidak dapat ditoleransi” dan “sangat disesalkan”. Dalam pernyataannya kepada media, Ishiba menegaskan bahwa semua pihak harus menahan diri agar situasi tidak semakin memanas, merujuk pada aksi balasan Iran.
Ishiba juga menyatakan bahwa Jepang akan menyampaikan sikap resminya pada pertemuan puncak G7 di Kanada yang dimulai Senin depan. Jepang, yang selama ini menjalin hubungan bersahabat dengan Iran karena ketergantungannya pada pasokan minyak mentah, berusaha menempuh jalur diplomatik yang seimbang di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Jepang meningkatkan peringatan bahaya untuk Iran ke level 3, yang berarti imbauan untuk “menghindari semua perjalanan”. Untuk wilayah yang berbatasan dengan Pakistan dan Irak, peringatan tetap di level 4, tingkat tertinggi, dengan seruan untuk “segera evakuasi dan hindari semua perjalanan”.
Sekitar 400 warga negara Jepang saat ini berada di Iran, dan pemerintah menyarankan mereka mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut. Jepang juga menaikkan tingkat peringatan untuk seluruh wilayah Israel ke level 3 atau lebih, karena potensi balasan dari Iran.
Pada hari yang sama, Israel mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap “puluhan target militer” di Iran, termasuk fasilitas nuklir. PM Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi militer ini akan “berlanjut selama diperlukan hingga ancaman benar-benar dihilangkan”.
Meski Israel didukung oleh sekutu keamanan utama Jepang, yaitu Amerika Serikat, Tokyo tetap berusaha menjaga hubungan baik dengan semua pihak di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Jepang, Takeshi Iwaya, menambahkan bahwa perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut sangat penting bagi Jepang. Ia menyerukan agar semua pihak menunjukkan “penahanan diri setinggi mungkin”, serta menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan segala upaya untuk melindungi warga Jepang di wilayah konflik.
Sc : KN







