Survei kuartalan Bank of Japan (BOJ) untuk bulan Juni menunjukkan bahwa proporsi masyarakat Jepang yang merasa kondisi hidup mereka lebih nyaman dibanding setahun lalu turun ke level terendah dalam lebih dari 15 tahun.
Indeks difusi mengenai kondisi hidup, yaitu persentase responden yang merasa kondisi hidup membaik dikurangi yang merasa memburuk, tercatat minus 57,2 pada survei Juni 2025. Angka ini adalah yang terburuk sejak survei September 2009, dan memburuk dari minus 52,0 pada survei Maret sebelumnya.
Sebanyak 61,0% responden menyatakan bahwa kondisi hidup mereka memburuk, meningkat 5,1 poin persentase dibanding survei sebelumnya. Sebaliknya, hanya 3,8% yang merasa kondisi mereka membaik, turun tipis 0,1 poin.
Dari mereka yang merasa memburuk, 93,7% menyebut kenaikan harga sebagai penyebab utama penurunan kondisi hidup.
Survei juga menunjukkan 70,5% responden berpikir kondisi ekonomi saat ini lebih buruk dibanding setahun lalu.
Ketika ditanya prediksi kenaikan harga dalam satu tahun ke depan, rata-rata responden memperkirakan kenaikan sebesar 12,8%, meningkat dari 12,2% pada survei sebelumnya dan menjadi angka tertinggi sejak data serupa tersedia pada September 2006.
Sebanyak 96,1% responden menyatakan harga-harga di Jepang memang naik dibanding setahun lalu, angka yang hampir tidak berubah dari survei sebelumnya.
Survei ini dilakukan antara 1 Mei hingga 3 Juni 2025, dengan sampel warga berusia 20 tahun ke atas di seluruh Jepang.
Survei Juni ini adalah yang pertama sejak pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif tambahan pada baja, aluminium, dan otomotif, serta beberapa tarif timbal balik (“reciprocal tariffs”).
Seorang pejabat BOJ mengatakan, “Kami tidak bisa memastikan apa dampak dari tarif tersebut” terhadap ekonomi.
Sc : JT







