Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang membuka sebuah pameran tentang mantan tentara Jepang yang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan trauma perang lainnya, serta tentang keluarga mereka. Pameran ini dibuka pada 23 Juli di Museum Nasional Shokei-kan, Tokyo.
Ini merupakan pameran khusus pertama yang diselenggarakan pemerintah Jepang mengenai para mantan tentara yang mengalami trauma emosional akibat pengalaman mereka di masa perang. Banyak dari mereka mengidap PTSD karena kerasnya kehidupan di medan perang dan tindakan kekerasan yang mereka lakukan selama perang.
Pameran ini dibuat dalam format sederhana menggunakan panel dan materi visual lainnya, dan akan berlangsung hingga 19 Oktober. Pameran ini menyoroti jumlah tentara yang mengalami trauma, proses perawatan mereka, serta peran Rumah Sakit Angkatan Darat Kohnodai di Prefektur Chiba (kini Pusat Medis Nasional Kohnodai) yang menjadi tempat mereka dirawat.
Sekitar Februari 2026, kementerian berencana membuka pameran permanen berdasarkan hasil survei yang dilakukan sejak tahun fiskal 2024 di museum yang sama, yang selama ini berfokus pada arsip sejarah para veteran yang terluka dan sakit.
Selama Perang Dunia II, banyak tentara dirawat karena gangguan kejiwaan. Namun, militer Jepang saat itu menolak mengakui keberadaan pasien-pasien tersebut. Setelah perang, para mantan tentara yang terdampak dan keluarga mereka memandang kondisi ini sebagai “aib”, sehingga mereka menutup rapat-rapat pengalaman mereka—menyebabkan kenyataan ini lama terkubur.
Dalam beberapa tahun terakhir, anak-anak para mantan tentara membentuk asosiasi keluarga dan terus mendorong pemerintah untuk melakukan survei pencarian fakta. Sejak tahun fiskal 2024, kementerian kesejahteraan telah mengumpulkan dan menganalisis catatan medis dari pasien-pasien yang pernah dirawat di rumah sakit angkatan darat dan laut. Kementerian juga mempelajari kehidupan keluarga mantan tentara yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa, dengan merujuk pada berbagai dokumen dan kesaksian tertulis yang tersimpan di Shokei-kan.
Akio Kuroi, perwakilan kelompok keluarga mantan tentara korban PTSD dan warga yang mendukung mereka, menyatakan, “Keberadaan tentara yang hancur secara mental dulu hampir tidak diketahui, dan hanya sedikit peneliti yang mendalami isu ini. Namun sekarang, isu ini mulai mendapat pengakuan sosial. Fakta bahwa pemerintah menyelenggarakan pameran tentang luka-luka yang tak terlihat ini adalah langkah maju yang penting.”
Sc : mainichi







