Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 0,5 persen dalam pertemuan dua harinya yang dimulai Rabu ini, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat pemberlakuan tarif impor yang lebih tinggi oleh Amerika Serikat.
Di tengah kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan global, BOJ juga kemungkinan besar akan menurunkan proyeksi ekonomi domestik untuk tahun fiskal berjalan dan tahun fiskal berikutnya dalam laporan kuartalannya yang akan dirilis usai pertemuan tersebut, menurut para ekonom.
BOJ sendiri tengah berada dalam fase normalisasi kebijakan moneter. Sejak Maret tahun lalu, bank sentral ini telah menaikkan suku bunga kebijakan sebanyak tiga kali, dimulai dari kenaikan pertama dalam 17 tahun yang sekaligus menandai berakhirnya kerangka pelonggaran moneter tidak konvensional yang digunakan selama lebih dari satu dekade.
Pasar memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini setelah suku bunga dinaikkan menjadi 0,5 persen dari 0,25 persen pada Januari. Namun, pandangan mengenai kapan tepatnya langkah itu akan diambil masih beragam.
Para ekonom menilai pembuat kebijakan BOJ membutuhkan waktu lebih lama untuk mengevaluasi dampak tarif AS terhadap inflasi, upah, dan prospek pencapaian target inflasi 2 persen. Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral akan terus menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi dan harga sejalan dengan ekspektasi mereka.
Volatilitas di pasar keuangan global meningkat tajam sejak Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif dagang “resiprokal” terhadap mitra dagang utama pada awal April. Meski kemudian implementasinya ditunda selama 90 hari bagi sebagian besar negara, tarif dasar sebesar 10 persen tetap diberlakukan untuk semua negara, ditambah bea tambahan atas produk baja dan mobil.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 sebesar 0,5 poin persentase dari estimasi Januari menjadi 2,8 persen dalam laporan terbarunya, merujuk pada serangkaian kebijakan tarif AS.
Harga konsumen inti Jepang, tidak termasuk makanan segar yang mudah berfluktuasi, naik 3,2 persen pada Maret dibanding tahun sebelumnya, terutama didorong oleh kenaikan harga beras dan barang kebutuhan pokok lainnya. Angka inflasi ini telah bertahan di atas target 2 persen BOJ selama tiga tahun berturut-turut.
Konsumen Jepang sendiri terus merasakan tekanan dari lonjakan harga, yang sejauh ini melampaui kenaikan upah, meskipun perusahaan-perusahaan Jepang telah menyetujui kenaikan gaji rata-rata sebesar 5,1 persen tahun lalu — tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.
Sc : mainichi







