Berdiri diam tanpa melakukan apa-apa di tempat kerja biasanya bisa bikin kamu dipecat. Tapi di salah satu kota di Jepang, justru itu adalah pekerjaan yang menghasilkan uang.
Sudah puluhan tahun masyarakat Jepang mematuhi “aturan tidak tertulis” tentang etika naik eskalator. Di Tokyo dan wilayah timur Jepang, orang berdiri di sisi kiri dan berjalan di sisi kanan. Di Osaka dan wilayah barat Jepang, posisinya terbalik. Intinya: orang yang tidak ingin berjalan harus memberi ruang di satu sisi bagi mereka yang ingin melangkah cepat.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah fasilitas dan pemerintah daerah mulai menganggap berjalan di eskalator sebagai tindakan tidak aman, dan meminta semua orang untuk berdiri di kedua sisi eskalator tanpa ada yang berjalan. Kota Nagoya bahkan telah menetapkan peraturan resmi soal ini.
Meski begitu, banyak yang menganggap berjalan di eskalator sama amannya dengan menaiki tangga biasa. Alhasil, masih banyak yang tetap berjalan di sisi kanan eskalator saat kosong.
Untuk menghilangkan opsi berjalan, pemerintah kota Nagoya menciptakan satuan khusus bernama “Nagoya Stand and Stop Corps” (Pasukan Berdiri dan Berhenti Nagoya). Tugas mereka? Cukup berdiri diam di eskalator.
Dengan tim beranggotakan tiga orang, mereka berdiri di sisi kanan eskalator—tempat yang biasanya digunakan untuk berjalan—sambil mengenakan atribut tangan besar bertuliskan “Nagoyaka ni STOP shite ne”, yang berarti “Silakan berhenti dengan tenang.” Frasa ini juga bermain kata dengan kata “nagoyaka” (tenang) dan “Nagoya”.
Setiap tim bertugas selama 6 jam per hari, dengan ketua tim dibayar 16.000 yen per hari—jauh lebih tinggi dari rata-rata kerja paruh waktu di toko atau restoran. Dua anggota lainnya menerima 6.500 yen per shift. Satu-satunya kualifikasi yang dibutuhkan? Bisa berdiri diam.
Selama tahun 2024, pasukan ini telah diterjunkan 4–5 kali sebulan, mencakup 19 stasiun di Nagoya. Pemerintah kota mengklaim bahwa jumlah orang yang berdiri di kedua sisi eskalator memang meningkat, jadi kegiatan ini akan terus dilanjutkan.
Para pendukung aturan ini mengatakan bahwa berdiri di kedua sisi bisa membuat lalu lintas eskalator secara keseluruhan jadi lebih lancar dan cepat. Namun, lawannya berargumen bahwa bagi individu, larangan berjalan malah memperlambat perjalanan mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa kecelakaan eskalator lebih sering disebabkan orang berlari atau menatap ponsel, bukan karena mereka berjalan.
Sc : japantoday







