Menu

Dark Mode
Presiden dan Pendiri Kyoto Animation Hideaki Hatta Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun Tingkat Kelulusan Ujian Konversi SIM Asing di Jepang Anjlok Setelah Aturan Diperketat Serangan AS-Israel ke Iran Guncang Industri Pelayaran dan Penerbangan Jepang Kyoto Naikkan Pajak Penginapan hingga 10.000 Yen, Himeji Castle Juga Naikkan Harga Tiket untuk Turis Nonresiden Apartment Hotel Kian Menjamur di Jepang, Incar Turis Asing yang Menginap Lama Trailer Baru BEASTARS Final Season Part 2 Dirilis, Tayang 7 Maret di Netflix

Culture

Filosofi di Balik Urutan Nama Orang Jepang: Kenapa Marga Dulu, Baru Nama Asli?

badge-check


					Filosofi di Balik Urutan Nama Orang Jepang: Kenapa Marga Dulu, Baru Nama Asli? Perbesar

Dalam budaya Jepang, ketika memperkenalkan diri, orang akan menyebut nama keluarga (marga) terlebih dahulu, lalu nama pribadi. Contohnya, Tanaka Hiroshi — di mana Tanaka adalah nama keluarga, dan Hiroshi adalah nama depan. Ini mungkin terdengar terbalik bagi banyak orang Indonesia atau Barat yang terbiasa menyebut nama pribadi dulu, seperti Hiroshi Tanaka. Tapi di balik urutan itu, ada filosofi dan pandangan hidup yang mendalam.


1. Kolektif Lebih Penting dari Individu

Jepang adalah negara dengan budaya kolektivis yang kuat. Dalam masyarakat seperti ini, kelompok atau komunitas dianggap lebih penting daripada individu. Menyebut nama keluarga terlebih dahulu mencerminkan identitas seseorang sebagai bagian dari sebuah keluarga, klan, atau komunitas.

Urutan ini secara simbolis menunjukkan bahwa:


2. Sejarah dan Tradisi Feodal

Urutan nama ini juga berasal dari sistem feodal Jepang kuno. Dalam masa samurai dan bangsawan, nama keluarga adalah tanda status sosial dan asal-usul yang sangat penting. Bahkan, pada zaman dahulu hanya kalangan tertentu yang diizinkan memiliki nama keluarga.

Setelah Restorasi Meiji (akhir abad ke-19), semua warga Jepang diwajibkan memiliki nama keluarga dan sistem ini menjadi standar nasional — tetap mempertahankan urutan nama keluarga lebih dulu.


3. Cara Pandang terhadap Identitas Diri

Berbeda dari budaya individualistik, orang Jepang cenderung tidak menonjolkan diri secara pribadi. Oleh karena itu, menyebut nama belakang terlebih dahulu adalah bentuk kerendahan hati, seolah berkata:
“Saya bagian dari keluarga ini, bukan hanya diri saya sendiri.”


4. Kenapa Diubah dalam Bahasa Inggris?

Di banyak media internasional, nama Jepang sering dibalik agar sesuai dengan format Barat, contohnya dari Tanaka Hiroshi menjadi Hiroshi Tanaka. Ini dilakukan agar lebih mudah dipahami oleh audiens non-Jepang.

Namun, sejak 2020, pemerintah Jepang mendorong untuk mengembalikan penggunaan urutan asli (nama keluarga dulu) dalam penulisan nama Jepang di luar negeri, sebagai bentuk pelestarian budaya dan identitas nasional.


5. Contoh Nyata di Budaya Pop dan Sehari-hari

  • Di sekolah dan kantor, seseorang lebih sering dipanggil dengan nama keluarganya, bukan nama depan.

  • Dalam anime, manga, dan drama, karakter biasanya saling menyebut dengan nama belakang — kecuali jika sudah sangat akrab.

Misalnya:

“Kurosawa-san, arigatou gozaimasu.”
(Terima kasih, Tuan/Nyonya Kurosawa.)


Urutan nama dalam budaya Jepang bukan sekadar kebiasaan linguistik, tapi mencerminkan filosofi mendalam tentang keluarga, komunitas, dan kesopanan. Menempatkan nama keluarga di depan adalah cara orang Jepang menunjukkan rasa hormat terhadap asal-usul dan lingkungan sosialnya — sesuatu yang patut kita apresiasi dalam memahami cara pikir bangsa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture