Upah riil pekerja Jepang tercatat turun di setiap bulan sepanjang 2025, menegaskan bahwa tekanan inflasi masih membebani daya beli masyarakat meski berbagai kebijakan penekan biaya hidup telah dijalankan. Kondisi ini sekaligus memperkuat arah kebijakan fiskal yang lebih ekspansif di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang baru saja meraih kemenangan telak dalam pemilu pada Minggu lalu.
Data Kementerian Ketenagakerjaan Jepang yang dirilis Senin menunjukkan bahwa upah riil pada Desember turun 0,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mengecewakan karena para ekonom sebelumnya memperkirakan upah riil akan berbalik positif untuk pertama kalinya dalam setahun, seiring melandainya inflasi. Secara keseluruhan, upah riil sepanjang 2025 tercatat turun untuk tahun keempat berturut-turut.
Di sisi lain, upah nominal justru naik 2,4 persen, sementara gaji pokok meningkat 2,2 persen, mengindikasikan adanya momentum dasar dalam pertumbuhan upah. Ukuran yang lebih stabil—yang mengecualikan bonus dan lembur—menunjukkan bahwa upah pekerja penuh waktu naik 2,1 persen. Ini menandakan bahwa masalah utama bukan terletak pada penurunan gaji rutin, melainkan pada bonus yang tidak tumbuh setinggi harapan.
Penurunan upah riil yang berkepanjangan telah memicu kekecewaan publik, dan menjadi salah satu faktor yang mendorong kemenangan besar koalisi berkuasa dalam pemilu. Menurut laporan NHK, koalisi pemerintah mengamankan 352 kursi, dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) meraih 316 kursi, jumlah terbanyak yang pernah diraih satu partai dalam sejarah pemilu Jepang. Dalam kampanyenya, Takaichi berjanji membantu rumah tangga menghadapi lonjakan biaya hidup, termasuk mempercepat pembahasan pemotongan pajak konsumsi untuk bahan makanan selama dua tahun.
Ekonom SMBC Nikko Securities, Yoshimasa Maruyama, menilai tren upah sebenarnya tidak terlalu lemah. Ia menyebut bahwa penurunan upah riil lebih disebabkan oleh bonus yang tidak meningkat sesuai ekspektasi, bukan karena penurunan signifikan pada gaji tetap.
Tekanan harga yang tinggi juga sudah berdampak langsung pada konsumsi. Belanja rumah tangga turun lebih dalam dari perkiraan pada Desember, terutama untuk barang-barang non-esensial seperti pakaian. Masyarakat terpaksa mengerem pengeluaran karena kebutuhan pokok, khususnya makanan, kini menyedot porsi belanja terbesar dalam sejarah.
Ke depan, para ekonom memperkirakan upah riil akan mulai membaik seiring meredanya tekanan inflasi, terutama harga pangan. Bank of Japan (BOJ) memproyeksikan indikator inflasi utamanya akan berada di bawah 2 persen pada tahun fiskal yang dimulai April mendatang. Seorang anggota panel penasihat pemerintah bahkan menyebut Jepang harus siap menyatakan keluar dari deflasi begitu pertumbuhan upah riil stabil dan kesenjangan output GDP menjadi positif.
Tren upah ini menjadi faktor krusial bagi BOJ dalam menentukan waktu kenaikan suku bunga berikutnya. Bank sentral menilai upah nominal masih berpotensi tumbuh kuat, terutama karena negosiasi upah musim semi tahun ini diperkirakan menghasilkan kenaikan gaji yang solid di berbagai perusahaan. Federasi serikat pekerja terbesar Jepang, Rengo, menuntut kenaikan upah setidaknya 5 persen, sama seperti tahun lalu, dan sinyal awal dari sejumlah perusahaan besar menunjukkan respons yang cukup positif.
Sc : JT








