Iran menyatakan siap mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan Jepang untuk melintas di Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak global. Hal ini dilaporkan oleh Kyodo News, mengutip Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Teheran disebut telah memulai pembicaraan dengan Tokyo, termasuk dengan Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi, terkait kemungkinan membuka kembali jalur tersebut. Araqchi menyampaikan hal ini dalam wawancara via telepon pada hari Jumat.
“Iran tentu siap mendukung kapal-kapal yang terkait dengan Jepang untuk melintas di Selat Hormuz,” ujar Araqchi, jika Jepang menginginkan jalur itu dibuka kembali.
Sekitar 90% impor minyak Jepang melewati selat tersebut, yang saat ini sebagian besar ditutup oleh Iran di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Lonjakan harga minyak global akibat perang yang telah memasuki minggu keempat ini membuat Jepang dan negara lain mulai melepas cadangan minyak mereka.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Washington dan mendesak Jepang untuk mengambil peran lebih besar, termasuk mengirim kapal perang guna membantu membuka jalur tersebut—meski hingga kini belum mendapat respons positif dari sekutu.
Jepang Perpanjang Masa Pakai Kartu Asuransi Lama hingga Juli 2026
Takaichi mengatakan bahwa ia telah menjelaskan kepada Trump mengenai bentuk dukungan yang bisa dan tidak bisa diberikan Jepang sesuai hukum yang berlaku.
Di bawah konstitusi pasifis pascaperang, peran militer Jepang di luar negeri memang terbatas. Namun, undang-undang keamanan tahun 2015 memungkinkan Jepang menggunakan kekuatan militer jika terjadi ancaman terhadap kelangsungan negara, termasuk serangan terhadap sekutu dekat.
Araqchi, yang pernah menjabat sebagai duta besar Iran untuk Jepang, juga menyebut hubungan Tokyo dan Teheran sebagai hubungan yang bersahabat. Ia berharap Jepang dapat berperan dalam mengakhiri apa yang disebutnya sebagai “invasi yang tidak dapat dibenarkan dan ilegal” terhadap Iran.
Ia juga menambahkan bahwa Amerika Serikat tampaknya belum siap untuk membuka dialog, sementara Iran menginginkan perang benar-benar diakhiri, bukan sekadar gencatan senjata, serta jaminan bahwa negaranya tidak akan kembali diserang.
Sc : reuters








