Menu

Dark Mode
Yakoh Shinobi Ops Diumumkan! Game Ninja Co-op 4 Pemain dari Shueisha Games & Acquire Siap Meluncur 2027 Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci Nekat Curi Kloset dari Gudang, Pria 76 Tahun di Aichi Pakai Sendiri di Rumah Leon Balik Lagi? Trailer Baru Resident Evil Requiem Isyaratkan Kembalinya Raccoon City Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Murah untuk Warga Lokal, Wisatawan Bakal Bayar Lebih Mahal Biaya Ujian JLPT Naik Mulai Juli 2026, Ini Rinciannya

News

Jepang Manfaatkan Tes Pendengaran Dini untuk Cegah Demensia di Tengah Populasi Menua

badge-check


					Jepang Manfaatkan Tes Pendengaran Dini untuk Cegah Demensia di Tengah Populasi Menua Perbesar

Seiring pesatnya penuaan penduduk Jepang yang semakin menekan sistem layanan medis dan perawatan lansia, pemerintah daerah di berbagai wilayah mulai melirik pendekatan yang tidak terduga dalam pencegahan demensia, yakni deteksi dini gangguan pendengaran akibat usia.

Pendekatan ini kian mendapat perhatian secara nasional setelah sejumlah riset luar negeri menunjukkan adanya kaitan kuat antara penurunan pendengaran dan meningkatnya risiko demensia. Tes pendengaran dinilai relatif mudah dilakukan dan berpotensi membantu mengidentifikasi kelompok berisiko sejak dini, sekaligus menekan biaya layanan kesehatan di masa depan, terutama di daerah dengan proporsi lansia yang terus meningkat.

Pada Agustus tahun lalu, sebuah kegiatan pemeriksaan pendengaran digelar di pusat komunitas Kota Noshiro, Prefektur Akita. Sekitar 30 warga mengikuti pemeriksaan yang meliputi tes pendengaran, evaluasi kebugaran fisik sederhana, serta pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan perangkat tablet.

Salah satu pesertanya adalah Toshisada Otani (79), yang mengikuti kegiatan tersebut setelah keluarganya menyadari bahwa ia sering menyetel volume televisi terlalu keras. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penurunan kemampuan pendengaran sekaligus fungsi kognitif, dan ia disarankan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis THT.

“Saya kecewa,” ujar Otani. “Tapi tanpa kesempatan seperti ini, mungkin saya baru akan pergi ke rumah sakit setelah pendengaran saya benar-benar hilang.”

Menurut Perhimpunan Otorinolaringologi Bedah Kepala dan Leher Jepang, gangguan pendengaran akibat usia disebabkan oleh penurunan bertahap sel rambut di telinga, yang berfungsi menangkap getaran suara. Diperkirakan sekitar setengah dari orang berusia 75 tahun ke atas mengalami penurunan pendengaran.

Hubungan antara gangguan pendengaran dan risiko demensia juga telah ditegaskan oleh berbagai penelitian internasional. Pada 2024, sebuah komite dari jurnal medis Inggris The Lancet merilis laporan yang mengidentifikasi 14 faktor risiko demensia, termasuk merokok dan kurang aktivitas fisik. Laporan tersebut menyebutkan bahwa jika seluruh faktor itu dapat dihilangkan, hingga 45 persen kasus demensia berpotensi dicegah atau ditunda. Di antara faktor-faktor tersebut, gangguan pendengaran disebut sebagai risiko terbesar, sejajar dengan kadar kolesterol LDL yang tinggi.

Menanggapi temuan tersebut, Pemerintah Prefektur Akita meluncurkan program uji coba pemeriksaan pada tahun fiskal 2025, yang dikelola oleh Pusat Riset Lanjut Geriatri dan Gerontologi Universitas Akita. Agar lebih mudah diakses, pemeriksaan dilakukan di balai kota dan pusat komunitas. Akita sendiri merupakan prefektur dengan tingkat penuaan tertinggi di Jepang, di mana 39,5 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas per Oktober 2024.

Kepala Divisi Masyarakat dan Umur Panjang Prefektur Akita, Kazunari Miura, mengatakan bahwa deteksi dini dapat menjadi solusi untuk menghadapi kekurangan tenaga perawatan di masa depan.

“Ketika jumlah tenaga perawat menurun, mendeteksi tanda-tanda demensia sejak dini melalui skrining dan menerapkan langkah pencegahan dapat membantu menekan biaya medis dan perawatan lansia,” ujarnya.

Dukungan terhadap penanganan gangguan pendengaran sebagai bagian dari pencegahan demensia juga meluas ke wilayah lain di Jepang. Harga alat bantu dengar yang berkisar antara 100.000 yen hingga beberapa ratus ribu yen per telinga menjadi hambatan finansial bagi banyak lansia. Untuk mengatasinya, sejumlah pemerintah daerah seperti Suzuka di Prefektur Mie dan Kota Miyazaki memberikan subsidi pembelian alat bantu dengar dengan syarat tertentu.

Sementara itu, beberapa daerah lain fokus pada skrining dan edukasi. Prefektur Okayama menandatangani perjanjian kerja sama dengan produsen alat bantu dengar dan menggelar ceramah tentang kesehatan pendengaran sebagai bagian dari kelas pencegahan penyakit. Di Prefektur Yamagata, pemeriksaan dilakukan menggunakan aplikasi ponsel pendeteksi suara yang dikembangkan perusahaan swasta. Peserta yang hanya mampu mendengar kurang dari 60 persen suara dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas medis.

Di tengah upaya Jepang menghadapi dampak demensia yang terus membesar, kesehatan pendengaran kini semakin dipandang sebagai langkah awal yang realistis dan efektif dalam strategi pencegahan jangka panjang.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kagoshima Kucurkan Rp3,5 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata, Wisatawan Asing Jadi Kunci

14 February 2026 - 16:10 WIB

Nekat Curi Kloset dari Gudang, Pria 76 Tahun di Aichi Pakai Sendiri di Rumah

14 February 2026 - 16:10 WIB

Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Murah untuk Warga Lokal, Wisatawan Bakal Bayar Lebih Mahal

14 February 2026 - 14:10 WIB

Biaya Ujian JLPT Naik Mulai Juli 2026, Ini Rinciannya

14 February 2026 - 14:04 WIB

Biaya Berobat di Jepang Bakal Naik Lagi Mulai Juni, Pasien Siap-siap Keluar Uang Lebih

14 February 2026 - 11:10 WIB

Trending on News