Pemerintah Jepang pada Selasa mengonfirmasi akan mendorong diversifikasi tujuan ekspor produk pertanian dan makanan guna mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu, dengan mempertimbangkan situasi di China dan Amerika Serikat.
Minuman beralkohol, minuman ringan, dan makanan ringan termasuk produk yang menjadi sasaran utama kebijakan ini, karena selama ini merupakan komoditas ekspor utama ke China. Negeri tersebut saat ini menghentikan impor produk laut asal Jepang. Sementara itu, ekspor utama Jepang ke Amerika Serikat mencakup minuman beralkohol, ikan yellowtail, dan kerang scallop.
Penghentian impor oleh China diyakini merupakan bagian dari respons terhadap pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu, yang menyiratkan kemungkinan Jepang bertindak apabila terjadi tekanan atau tindakan koersif terhadap Taiwan.
Di sisi lain, pemerintah Jepang juga mengkhawatirkan potensi penurunan konsumsi produk Jepang di Amerika Serikat apabila kenaikan tarif menyebabkan harga menjadi lebih mahal.
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara, yang memimpin pertemuan para menteri terkait, menyatakan bahwa Jepang akan berupaya memperluas jalur penjualan ke negara dan wilayah yang selama ini masih memiliki volume ekspor terbatas.
Pemerintah Jepang menargetkan nilai ekspor produk pertanian, kehutanan, perikanan, serta makanan mencapai 5 triliun yen pada 2030, meningkat signifikan dari sekitar 1,5 triliun yen pada 2024.
Sc : mainichi







