Jepang vs Korea Selatan Berlomba Investasi Pabrik Baterai di RI, Mana yang Unggul?

Beberapa perusahaan otomotif dan listrik rakasasa asal Korea Selatan terus aktif mendorong investasi untuk pembuatan pabrik baterai Indonesia karena memiliki cadangan nikel yang melimpah.

Tak main-main, nilai investasi dari 2 perusahaan raksasa yakni LG Energy Solution dan Hyundai Motor Grup mencapai Rp 15,6 Trilyun demi mengembangkan produksi baterai di Karawang Jawa Barat Indonesia.

Di tahap pertama, kapasitas produksi diperkirakan mencapai 10 giga watt/hour.

Banyak yang menilai bahwa langkah berbagai perusahaan raksasa tersebut untuk investasi di Indonesia adalah langkah yang tepat karena RI diprediksi akan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan demograf generasi muda yang sangat baik.

Indonesia bahkan disebut-sebut bisa menjadi salah satu negara pemasok baterai terbesar di dunia karena memiliki cadangan nikel yang besar sebagai bahan baku pembuatan energi terbarukan baterai yang ramah lingkungan untuk kebutuhan otomotif listrik di masa depan.

Sejauh ini, ada 4 perusahaan otomotif Jepang yang juga disebut-sebut akan investasi di Indonesia dengan nilai mencapai 49,5 Trilyun yang direalisasikan pada 2024.

Jepang sendiri merupakan negara paling potensial untuk investasi besar-besaran di RI mengingat banyak perusahaan otomotif Jepang menguasai pasar otomotif Indonesia.

4 Perusahaan yang dikabarkan akan investasi di RI meliputi Toyota, Honda, Suzuki dan Mitsubishi dengan besaran investasi yang beragam dengan Toyota yang paling besar yakni 28,3 Trilyun, Honda 5,2 Trilyun , Suzuki 1,2 Trilyun  dan Mitsubishi 11,2 Trilyun sehingga totalnya mencapai Rp 49,5 Trilyun.

 Perlombaan investasi dari raksasa otomotif tersebut menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara tujuan utama investor dalam mengembangkan industri kendaraan bermotor terutama kendaraan listrik.

Pengamat otomotif RI Yannes Martinus mengatakan bahwa nilai investasi dari Jepang yang fantastis apalagi Jepang yang mempunyai keuntungan di RI sebagai penguasa pasar otomotif jika tak bergerak cepat maka akan kehilangan peluang besar dan bukan tidak mungkin akan disalip Korea Selatan.

Source : katadata,gaikindo