Jumlah Laporan Ke Polisi Tentang “Revenge Porn” Mencapai Titik Tertinggi Baru Pada Tahun 2020

Jumlah laporan balas dendam porno atau revenge porn yang dibuat polisi naik menjadi 6,2% pada 2020, Kata Badan Kepolisian Nasional pada 4 Maret 2021.

Kasus meningkat 91 dari tahun sebelumnya menjadi total 1.570, jumlah tertinggi terjadi sejak 2014, ketika undang-undang untuk mencegah pornografi balas dendam diberlakukan.

Revenge Porn atau balas dendam porno adalah bentuk kekerasan seksual. Biasanya dengan pemaksaan atau ancaman terhadap seseorang, umumnya perempuan, untuk menyebarkan konten asusila melalui dunia maya. Bentuknya bisa berupa Rekaman suara, foto atau video yang dibuat oleh pasangan yang biasanya memiliki hubungan intim dengan pengetahuan atau persetujuan orang tersebut, atau dapat dibuat tanpa sepengetahuannya.

Kesenjangan gender di antara para korban sangat mencolok. Wanita melaporkan 1.427 kasus, membuat sekitar 90% dari total, menurut laporan tahunan. Sedangkan 142 pengaduan berasal dari laki-laki, meningkat hampir 50% dari tahun sebelumnya.

Dibagi berdasarkan kelompok usia, mereka yang berusia 20-an merupakan korban terbesar yaitu 660, diikuti oleh 429 korban di bawah 20 tahun dan 247 korban di usia 30-an.

Ada 567 kasus di mana orang melaporkan diancam bahwa foto mereka akan diposting, 559 kasus di mana orang melaporkan seseorang memiliki atau memfilmkannya, 286 laporan foto yang diposting, dan 254 laporan orang yang menerima foto tersebut.

Pelakunya termasuk pacar korban atau mantannya, yang mencapai 54 %. Kenalan daring atau teman internet berjumlah 16,4%, sedangkan kenalan atau teman lain menyumbang 13,2%.

Polisi menangani total 245 kasus, turun 16 kasus dari tahun sebelumnya. Berdasarkan dugaan kejahatan, angka tersebut mencakup 47 pelanggaran undang-undang pencegahan pornografi balas dendam, 43 kasus pemerasan, 34 pelanggaran undang-undang prostitusi anak atau pornografi anak, dan 27 upaya pemerasan.

Sc: Asahi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here