Saat perayaan Tahun Baru di Jepang mulai berakhir, ada satu tradisi yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sarat makna: Kagami Biraki. Ritual ini dilakukan dengan cara memecah mochi yang sebelumnya dipajang sebagai hiasan Tahun Baru, lalu memakannya bersama-sama. Meski tampak sepele, Kagami Biraki mencerminkan cara orang Jepang memaknai penutupan awal tahun dengan penuh rasa hormat dan simbolisme.
Apa Itu Kagami Biraki?
Secara harfiah, kagami berarti “cermin” dan biraki berarti “membuka”. Dalam konteks tradisi ini, Kagami Biraki merujuk pada membuka atau memecah kagami mochi, yaitu mochi berbentuk bulat yang ditumpuk dan dipajang sejak awal Tahun Baru sebagai persembahan.
Kagami mochi biasanya terdiri dari dua mochi bulat yang ditumpuk, sering dihiasi dengan jeruk kecil (daidai) di atasnya. Mochi ini dipercaya sebagai tempat singgah Toshigami-sama, dewa tahun baru yang membawa keberuntungan dan umur panjang.
Kapan Kagami Biraki Dilakukan?
Kagami Biraki umumnya dilakukan pada 11 Januari, meskipun di beberapa daerah tanggalnya bisa berbeda, seperti 15 atau 20 Januari. Ritual ini menandai berakhirnya masa perayaan Tahun Baru dan kembalinya kehidupan sehari-hari.
Tanggal 11 dipilih bukan tanpa alasan. Angka ini dianggap netral dan tidak mengandung makna buruk, sehingga cocok untuk ritual yang berkaitan dengan keberuntungan dan keselamatan.
Kenapa Mochi Tidak Dipotong, Tapi Dipecah?
Salah satu hal paling menarik dari Kagami Biraki adalah larangan memotong mochi dengan pisau. Mochi tidak dipotong, melainkan dipecah menggunakan tangan atau alat tumpul seperti palu kayu.
Alasannya bersifat simbolis. Dalam budaya Jepang, kata “memotong” sering diasosiasikan dengan perpisahan atau pemutusan hubungan, yang dianggap kurang baik di awal tahun. Sementara “memecah” dimaknai sebagai membuka keberuntungan dan membagi energi baik kepada semua orang.
Bagaimana Mochi Dimakan Setelah Kagami Biraki?
Setelah dipecah, mochi tidak langsung dimakan begitu saja. Biasanya mochi tersebut dimasak ulang menjadi berbagai hidangan hangat, seperti:
-
Oshiruko atau zenzai, sup kacang merah manis dengan mochi
-
Ozōni, sup tradisional Tahun Baru
-
Mochi panggang yang kemudian diberi kecap atau kuah sederhana
Dengan memakan mochi tersebut, orang Jepang percaya mereka ikut menerima berkah dan kekuatan dari dewa tahun baru.
Makna di Balik Tradisi Kagami Biraki
Kagami Biraki bukan sekadar soal makanan. Tradisi ini mengandung beberapa makna penting, antara lain:
-
Mengakhiri perayaan dengan rasa syukur, bukan secara tiba-tiba
-
Membagi keberuntungan, karena mochi dipecah dan dimakan bersama
-
Menghormati yang sakral, dengan tidak sembarangan memperlakukan persembahan
-
Transisi ke rutinitas, dari suasana libur ke kehidupan sehari-hari
Ritual ini mengajarkan bahwa bahkan penutup perayaan pun dilakukan dengan penuh kesadaran dan etika.
Kagami Biraki di Jepang Modern
Di Jepang modern, Kagami Biraki tidak hanya dilakukan di rumah. Banyak kantor, dojo seni bela diri, hingga sekolah masih menjalankan tradisi ini secara simbolis. Di dojo, Kagami Biraki sering diiringi dengan latihan pertama di tahun baru sebagai bentuk pembukaan semangat.
Meski gaya hidup berubah, esensi Kagami Biraki tetap bertahan sebagai pengingat bahwa awal tahun tidak hanya tentang pesta, tetapi juga tentang menutup satu fase dengan hormat sebelum melangkah maju.
Kagami Biraki menunjukkan bagaimana orang Jepang memperlakukan tradisi dengan penuh makna, bahkan dalam hal sederhana seperti memecah mochi. Bagi mereka, setiap ritual adalah cara menjaga hubungan antara manusia, alam, dan harapan. Tradisi ini mengingatkan bahwa keberuntungan tidak hanya dinantikan, tetapi juga dibuka dan dibagi bersama.










