Menu

Dark Mode
Season 2 Saga of Tanya the Evil Siap Tayang Tahun 2026, Rilis Teaser Baru Mulai April 2026, Orang Tua yang Cerai di Jepang Wajib Bayar Nafkah Anak ¥20.000 per Bulan Manga “SHION” Dapat Adaptasi Anime Mulai 1 Desember Pengadilan Tinggi Tokyo Putuskan Larangan Nikah Sesama Jenis Masih Sesuai Konstitusi Jepang Jumlah Petani Jepang Anjlok 25% dalam Lima Tahun, Picu Kekhawatiran Ketahanan Pangan Kadokawa Rilis Manga Baru “Tsukuru Niwa” Karya Mikanuji di Comic Newtype

Culture

Kenapa Kimono Tidak Lagi Dipakai Sehari-hari di Jepang?

badge-check


					Kenapa Kimono Tidak Lagi Dipakai Sehari-hari di Jepang? Perbesar

Ketika mendengar kata “Jepang”, banyak orang langsung membayangkan kimono—pakaian tradisional dengan pola indah, obi (ikat pinggang lebar), dan siluet anggun. Namun, kalau kamu berjalan-jalan di Tokyo atau Osaka hari ini, kamu akan jarang sekali melihat orang Jepang memakai kimono sehari-hari. Lalu, kenapa pakaian yang begitu ikonik ini tidak lagi dipakai dalam kehidupan sehari-hari?


1. Perubahan Sejak Era Modernisasi

Peralihan besar terjadi pada Era Meiji (1868–1912). Saat Jepang membuka diri terhadap dunia Barat, pemerintah mendorong rakyatnya untuk memakai busana bergaya Barat sebagai simbol modernitas. Celana panjang, jas, dan gaun dianggap lebih praktis untuk bekerja, terutama bagi pegawai pemerintahan dan pekerja kantoran. Dari sinilah pakaian Barat mulai menggantikan kimono dalam aktivitas sehari-hari.


2. Praktis vs. Ribet

Kimono memang indah, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa cara memakainya cukup rumit. Dibutuhkan beberapa lapisan kain, ikatan obi yang harus diatur dengan benar, dan kadang memerlukan bantuan orang lain. Berbeda dengan pakaian modern yang lebih cepat dan praktis dipakai.

Bagi masyarakat modern yang sibuk, jas, seragam, atau pakaian kasual jauh lebih efisien dibanding kimono.


3. Biaya yang Tidak Murah

Kimono berkualitas tinggi bisa sangat mahal, terutama jika dibuat dari sutra dan dikerjakan dengan teknik tradisional. Bahkan menyewanya saja bisa menguras kantong. Karena itu, kimono lebih sering dipakai untuk acara khusus, bukan untuk sehari-hari.


4. Fungsi Kini: Pakaian Formal dan Seremonial

Meskipun tidak lagi dipakai setiap hari, kimono masih memiliki tempat penting dalam budaya Jepang. Biasanya kimono dipakai pada momen-momen spesial, seperti:

  • Pernikahan

  • Upacara kedewasaan (Seijin Shiki)

  • Festival tradisional (Matsuri)

  • Wisuda atau upacara formal

Dengan begitu, kimono tetap hidup sebagai simbol budaya, meski tidak lagi hadir di keseharian.


5. Kembalinya Kimono dalam Gaya Modern

Menariknya, generasi muda Jepang mulai menghidupkan kembali kimono dengan gaya baru. Ada yang memadukannya dengan sepatu sneakers, ada juga kafe atau tempat wisata yang menyediakan jasa penyewaan kimono agar pengunjung bisa merasakan budaya tradisional. Jadi, meskipun sudah tidak dipakai sehari-hari, kimono masih relevan dengan cara yang lebih modern.


Kimono mungkin sudah jarang dipakai untuk aktivitas sehari-hari karena alasan praktis, biaya, dan modernisasi, tetapi perannya tetap penting dalam menjaga identitas budaya Jepang. Ia bukan hanya sekadar pakaian, melainkan warisan budaya yang dihormati dan dirayakan di momen-momen spesial.

Jadi, meskipun di jalanan Jepang kita lebih sering melihat orang memakai jas atau pakaian kasual, kimono akan selalu punya tempat istimewa di hati masyarakat Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Senpāi–Kōhai: Hirarki Sosial Jepang dari Sekolah hingga Dunia Kerja

22 November 2025 - 14:30 WIB

Miai: Perjodohan Ala Jepang yang Tetap Eksis di Era Dating App

21 November 2025 - 13:43 WIB

Yatai: Kultur Street Food Kaki Lima Musiman yang Hangat di Jepang

19 November 2025 - 20:00 WIB

Higan: Tradisi Ziarah ke Makam Saat Perubahan Musim di Jepang

18 November 2025 - 16:33 WIB

Telat Sedikit Sama dengan Tidak Profesional: Kenapa Tepat Waktu Itu Harga Mati di Jepang?

17 November 2025 - 20:00 WIB

Trending on Culture