Adik dari pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, pada Senin menyatakan bahwa Pyongyang tidak berniat menggelar pertemuan dengan Jepang jika Tokyo tetap menjadikan isu penculikan warga Jepang sebagai syarat utama.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh Korean Central News Agency, ia menegaskan bahwa jika Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tetap berupaya menyelesaikan apa yang disebutnya sebagai “masalah sepihak”, maka pihak Korea Utara tidak memiliki niat untuk bertemu.
Sebelumnya, Takaichi menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Washington bahwa ia ingin mengadakan dialog dengan Kim Jong Un, dan mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat untuk segera menyelesaikan isu tersebut.
Kim Yo Jong juga menyebut Jepang perlu meninggalkan “cara berpikir usang” jika ingin mewujudkan pertemuan tingkat tinggi. Ia menilai Jepang justru bergerak ke arah sebaliknya.
“Kami tidak punya hal untuk dibicarakan dengan pihak yang masih terikat pada pemikiran lama dan ide yang tidak mungkin,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia tidak ingin melihat Perdana Menteri Jepang datang ke Pyongyang.
Pemerintah Jepang saat ini mencatat 17 warganya diculik oleh Korea Utara pada tahun 1970-an hingga 1980-an, meski diyakini jumlah sebenarnya lebih banyak. Lima orang berhasil dipulangkan pada 2002 setelah kunjungan bersejarah Perdana Menteri saat itu, Junichiro Koizumi, ke Pyongyang. Namun sejak itu, belum ada kemajuan signifikan terkait kasus lainnya.
Jepang sendiri terus berupaya membuka dialog melalui berbagai jalur, meski kedua negara hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Sementara itu, Korea Utara bersikeras bahwa isu penculikan tersebut telah selesai.
Sc : KN








