Banyak Kasus Perlakuan Buruk Terhadap Pemagang Asing di Jepang, Kinerja Organisasi Pengawas Jadi Bahan Kritikan

Kasus perlakuan buruk sewenang-wenang terhadap peserta pelatihan magang di Jepang kian banyak kini menimbulkan kritik terhadap badan pengawas yang bertanggung jawab terhadap program magang tersebut.

Pada konfereni pers yang diadakan  di gedung pemerintah Prefektur Miyagi, ada 3 wanita pemagang asal Vietnam yang mengaku mendapat perlakuan buruk seperti dimarahi dengan keras oleh atasan, tidak mendapat bayaran sebelum secara resmi bekerja di perusahaan pengolahan perikanan di Ishinomaki. Bulan Februari lalu mereka dipaksa berhenti bekerja oleh bos mereka hingga kini mereka hidup luntang-lantung di Jepang karena tidak memiliki penghasilan.

3 Peserta magang ini datang ke Jepang sejak Oktober 2019 bertujuan untuk mentransfer keterampilan bekerja ketika mereka pulang ke negara mereka.

Namun, program ini sering mendapat kritikan bahwa banyak perusahaan di Jepang yang mengimpor tenaga kerja  dengan bayaran murah dari negara-negara di Asia lainnya.

3 wanita ini bergabung dengan serikat pekerja Sendai Keyaki Union.

Menurut serikat pekerja, mereka telah datang ke kantor organisasi pengawas program magang atau OTIT namun pejabat OTIT merekomendasikan agar mereka keluar dari serikat pekerja agar bisa mendapat pekerjaannya kembali.

Menurut serikat pekerja, permintaan itu adalah pelanggaran hak pekerja hingga akhirnya OTIT mengizinkan 3 peserta magang Vietnam tersebut untuk berganti pekerjaan.

Menurut data pemerintah, hingga kini jumlah peserta magang asing mencapai lebih dari 276.000 orang dimana 58,1% berasal dari Vietnam, 13,6% dari China dan 9,1% dari Indonesia.

Tahun 2020, OTIT menerima sekitar 13.300 konsultasi dari para peserta magang dan sebanyak 3210 kasus diantaranya adalah tentang pengalaman intimidasi dan pelecehan.

Banyaknya peserta magang yang berangkat lewat agen pengirim dengan berhutang membuatnya tak mudah untuk kembali pulang ke negaranya bahkan jika ada kondisi tak menguntungkan di tempat kerjanya selama magang di Jepang.

 Menurut Posse, sebuah organisasi nirlaba yang menangani kasus perburuhan pernah membela seorang peserta magang dari Kamboja yang menghilang dari pekerjaannya di perushaaan di wilayah Kanto karena tak mendapat bayaran dengan mencarikan tempat tinggal bagi peserta tersebut.

Posse telah mengunjungi OTIT namun menurutnya OTIT menunda dan lambat dalam memberikan dukungan hingga Posse turun tangan untuk membantunya.

Profesor dari Universitas Kyoto bernama Wako Asato juga pernah memberikan kritik terhadap OTIT yang dinilai lambat dalam melindungi hak peserta magang terlepas dari tugas utamanya yang mensertifikasi program pelatihan perushaaan.

“OTIT perlu meningkatkan keahlian dan bersiap menangani masalah ketanagakerjaan terkait dengan peserta pelatihan dari sudut pandang yang lebih adil” imbuh Profesor Wako Asato.

Source : mainichi