Meski Berupaya Hapuskan Hanko, Jepang Perlu Waktu Adaptasi Kebiasaan Baru Setidaknya Puluhan Tahun

Meski pun pemerintah pusat Jepang yang telah menginginkan untuk melepaskan budaya penggunaan “hanko” atau cap administratif dari tangan publik, setidaknya perlu waktu yang cukup lama.

Seperti berbagai prosedur pernikahan dan perceraian yang dipersingkat dengan tanpa perlu menggunakan hanko, namun tidak akan hilang 100% karena masih ada beberapa persyaratan yang diharuskan memakai cap tersebut.

Hal ini juga tentu akan berdampak bagi produsen Hanko yang asosiasinya, mendesak parlemen Jepang yang kini berkuasa LDP untuk berkampanye agar tetap menjaga persyaratan administrasi wajib tetap menggunakan segel pada dokumen.

Banyak orang juga yakin bahwa penggunaan hanko masih akan terus diwajibkan dalam formulir perkawinan atau perceraian karena cap tersebut menandai peristiwa penting dalam kehidupan.

Kementerian Kehakiman Jepang berencana untuk mengakhiri persayaratan penggunakan hanko dalam suatu prosedur namun tetap mengizinkan orang menggunakannya jika mereka mau.

Menurut Menteri Kehakiman Jepang Yoko Kamikawa, stempel atau hanko dalam prosedur dokumen adalah praktik yang sangat umum di Jepang yang sudah digunakan sejak Era Meiji 1868-1912.

Penggunaan hanko yang telah menjadi budaya dan mendarah daging pada masyarakat juga akan menyulitkan wacana pemerintah yang ingin mendigitalisasi prosedur administrasi.

Bagaimana pun juga, untuk mengubah kebiasaan hidup banyak orang apalagi yang sudah dijalankan secara turun temurun tentu akan menjadi masalah tersendiri dan perlu adanya waktu adaptasi agar wacana pemerintah Jepang yang ingin menghapuskan hanko dapat terwujud.

Source : asahi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here