Penting untuk diingat bahwa perbedaan budaya tidak selalu bisa ditarik dengan garis lurus. Misalnya, love hotel hotel tempat pasangan menyewa kamar per jam sudah lama menjadi bagian dari budaya Jepang, sampai-sampai kakek-nenek pun mungkin punya kenangan memanfaatkannya. Namun, hal itu tidak berarti Jepang adalah masyarakat yang sepenuhnya liberal secara seksual. Faktanya, baru pada 2011 pemerintah Jepang mengizinkan penggunaan morning after pill.
Sektor medis Jepang selama ini dikenal berhati-hati dalam mengadopsi obat-obatan yang dikembangkan di luar negeri, meskipun keamanan morning-after pill sebenarnya sudah lama terbukti di banyak negara lain. Bahkan ketika Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan akhirnya menyetujuinya, penggunaannya dibatasi hanya untuk perempuan yang memperoleh resep dokter setelah konsultasi langsung.
Padahal, kontrasepsi darurat—istilah yang lebih tepat untuk morning-after pill—umumnya efektif hingga 72 jam setelah berhubungan seksual. Kewajiban membuat janji dokter, datang ke rumah sakit, lalu menunggu obat ditebus di apotek sering kali menjadi kendala besar dalam situasi yang sangat bergantung pada waktu.
Namun kini, setelah bertahun-tahun perdebatan dan janji kebijakan, mulai Februari morning-after pill akhirnya akan dijual bebas di Jepang. Perempuan dapat membelinya langsung di drugstore tanpa resep dokter. Tidak ada batasan usia maupun persyaratan izin orang tua, sehingga remaja perempuan pun bisa membelinya tanpa harus memberi tahu orang tua atau wali.
Tentu saja ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
Yang pertama adalah harga. Produk Norlevo dari Aska Pharmaceuticals dibanderol 7.480 yen. Meski setara sekitar 48 dolar AS, bagi konsumen Jepang harga ini terasa cukup mahal, walau kemungkinan masih terjangkau selama tidak digunakan secara rutin.
kedua, obat ini harus dibeli secara langsung. Penjualan online atau layanan antar tidak diperbolehkan. Artinya, tidak ada opsi pembelian yang sepenuhnya privat atau anonim.
ketiga, yang paling banyak menuai kritik—adalah pil harus diminum langsung di tempat, di hadapan apoteker setelah dibeli. Aturan ini mengurangi privasi pengguna dan juga mencegah perempuan menyimpan pil untuk berjaga-jaga di rumah atau tas. Jika suatu saat dibutuhkan lagi, mereka harus kembali ke apotek.
Kebijakan ini juga menimbulkan tantangan bagi toko obat. Apotek harus memiliki staf yang cukup untuk mendampingi konsumsi obat, dan belum tentu pegawai paruh waktu atau pegawai remaja diperbolehkan melakukannya. Hal ini berpotensi membatasi jumlah toko yang bisa menjual morning-after pill, terutama di daerah dengan fasilitas terbatas.
Meski begitu, penjualan morning-after pill tanpa resep tetap menjadi langkah besar dalam memperluas akses kontrasepsi darurat bagi perempuan di Jepang.
Dalam bahasa Jepang, kontrasepsi darurat disebut 緊急避妊薬 (kinkyū hininyaku), sementara morning-after pill dikenal sebagai アフターピル (afuta piru). Aska Pharmaceuticals juga menyediakan informasi Norlevo dalam bahasa Inggris dan Mandarin di situs resminya.
Sc : JT







