Pasukan Bela Diri Darat Jepang (Ground Self-Defense Force/GSDF) pada Senin mulai melakukan pembersihan salju di atap-atap rumah warga di Kota Aomori, Jepang timur laut, setelah pemerintah prefektur setempat mengajukan permintaan pengerahan darurat akibat salju ekstrem yang memecahkan rekor.
Pemerintah Prefektur Aomori menyatakan permintaan tersebut diajukan pada Minggu malam, dan menjadi yang pertama dalam 21 tahun untuk kasus hujan salju lebat di Kota Aomori. Saat ini, prioritas pembersihan difokuskan pada lansia yang tinggal sendiri, sementara mulai Selasa GSDF juga akan mendata rumah tangga yang kesulitan membersihkan salju secara mandiri.
“Upaya pembersihan salju benar-benar tidak mampu mengejar kondisi saat ini. Krisis yang mengancam nyawa, termasuk kecelakaan fatal dan runtuhnya rumah, sudah di depan mata,” ujar Gubernur Aomori Soichiro Miyashita kepada wartawan.
Menurut Divisi ke-9 GSDF, sebanyak 13 personel dikerahkan ke Distrik Magonai pada Senin sore dan membersihkan salju dari atap rumah warga menggunakan sekop.
Badan Meteorologi Jepang mencatat ketebalan salju di Kota Aomori mencapai 183 sentimeter pada Minggu, sekitar 2,7 kali lipat dari rata-rata tahunan.
Pemerintah prefektur dan kepolisian melaporkan beberapa korban jiwa, termasuk seorang perempuan berusia 91 tahun yang tinggal sendiri dan ditemukan meninggal setelah tertimbun sekitar 3 meter salju. Selain itu, lebih dari 110 orang mengalami luka-luka.
Hingga Senin sore, pemerintah prefektur telah menerapkan undang-undang bantuan bencana di 21 kota dan desa, termasuk Aomori dan Hirosaki, untuk membantu pembiayaan tempat evakuasi serta operasi pembersihan salju.
Salju lebat ini terjadi di tengah masa kampanye pemilu nasional selama 12 hari, memicu kekhawatiran kondisi cuaca akan mengganggu proses pemungutan suara pada Minggu mendatang.
Cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh massa udara dingin dari Arktik yang bertahan lama di atas kepulauan Jepang dalam beberapa hari terakhir.
Sc ; JT








