Pemerintah Jepang Kini Berupaya untuk Menghapus Penggunaan Mesin Faks dan Hanko Guna Memperpendek Birokrasi

A hanko is stamped on a banking document in an arranged photograph taken in Tokyo, Japan, on Tuesday, Feb. 12, 2019. Hanko, the personal stamps required for even simple transactions in Japan since the 1800s, are getting phased out at some of the country’s biggest financial institutions. Photographer: Keith Bedford/Bloomberg

Jepang merupakan salah satu negara dengan sistem birokrasi yang cukup rumit. Menurut data, sebanyak 95% pelaku usaha di Jepang masih menggunakan mesin faks dan cap hanko dalam menjalankan birokrasi dalam perusahaan.

Hal ini memunculkan kontra karena dinilai yang sudah tidak lagi efisien.

Mantan menteri pertahanan yang kini menjabat menjadi Menteri Administrasi Taro Kono, menegakan bahwa ia ingin mengurangi bahkan menghapus kebiasaan penggunaan teknologi yang sudah usang tersbeut.

Menteri Kono mengatakan bahwa Ia ingin mendorong pergeseran ke arah digitalisasi yang dinilai lebih efisien dalam bekerja.

Penggunaan mesin faks yang cukup tinggi membut tingginya penggunaan dan penghamburan kertas. Dengan peran digitalisasi akan memudahkan pengiriman dokumen tanpa perlu lagi membuang-buang kertas.

“Jujur menurut saya, tidak banyak prosedur administratif yang benar-benar memerlukan pecetakan kertas dengan mesin faks” kata Kono.

Selain itu, Menteri Kono juga ingin mengurangi penggunaan stempel yang biasa di Jepang disebut dengan “Hanko” sebagai bukti otentifikasi dokumen.

Hal ini dikarenakan banyak kasus yang perlu memerlukan cap perusahaan atau atasan guna memverifikasi sebuah dokumen. Penggunaan cap yang mengharuskan bertemu dengan atasan kini sedang diawasi ketat karena dikhawatirkan akan memicu penyebaran virus.

Menteri Kono mengatakan bahwa Ia ingin menghapuskan budaya ini secara bertahap agar tidak perlu lagi permintaan cap hanko agar lebih efisien.

Source : JT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here