Pemerintah Jepang berencana melepaskan 200.000 ton beras dari cadangan nasional melalui kontrak langsung dengan pengecer, sebagai upaya terbaru untuk menekan harga pangan pokok yang terus melonjak. Hal ini diumumkan oleh Menteri Pertanian Jepang, Shinjiro Koizumi, pada Selasa (10 Juni).
Beras yang akan dilepas terdiri dari 100.000 ton hasil panen tahun 2020 dan 100.000 ton dari panen 2021. Koizumi menyebutkan bahwa harga jual beras tahun 2020 di toko-toko diperkirakan akan sekitar 1.700 yen (sekitar Rp18.000 per kg) untuk setiap 5 kilogram.
Langkah ini akan membuat cadangan beras nasional menyusut drastis menjadi sekitar 100.000 ton, turun dari 910.000 ton sebelum pemerintah mulai melepas stok melalui lelang pada bulan Maret dan April lalu.
Penurunan tajam ini menimbulkan kekhawatiran bahwa cadangan beras pemerintah bisa tidak mencukupi dalam keadaan darurat. Koizumi juga mengungkapkan ketertarikannya untuk meningkatkan impor beras demi menjamin pasokan domestik tetap stabil.
Distribusi beras kali ini akan mencakup jaringan supermarket kecil, toko khusus, serta pengecer besar. Kementerian Pertanian akan mulai menerima aplikasi distribusi mulai Rabu.
“Kami akan segera mendistribusikan beras cadangan ini agar bisa sampai ke konsumen dengan harga lebih murah,” ujar Koizumi dalam konferensi pers.
Pemerintah Jepang biasanya menyimpan sekitar 1 juta ton beras sebagai cadangan darurat untuk bencana alam atau gagal panen, dengan membeli 200.000 ton per tahun dari petani selama lima tahun. Kebutuhan beras domestik tahunan Jepang mencapai sekitar 6,7 juta ton.
Sejak musim panas tahun lalu, pasokan beras di toko-toko Jepang mulai langka, menyebabkan harga naik dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada minggu pertama Juni, harga rata-rata mencapai 4.223 yen per 5 kg.
Kementerian mencurigai bahwa sebagian distributor dan petani menimbun beras demi keuntungan dari lonjakan harga.
Awal bulan ini, pemerintahan Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengadakan pertemuan pertama antarmenteri untuk membahas kebijakan beras Jepang dan mencari penyebab kenaikan harga yang tak kunjung reda.
Menghadapi kemarahan publik, pemerintah mulai melepas cadangan beras untuk mengatasi kelangkaan—langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam konteks stabilisasi distribusi.
Koizumi, yang menjabat sebagai menteri sejak 21 Mei menggantikan Taku Eto yang mundur akibat pernyataan kontroversial terkait hadiah beras dari pendukung, sebelumnya telah memutuskan untuk melepas total 300.000 ton beras melalui penjualan langsung ke pengecer dengan harapan bisa menurunkan harga di pasaran.
Meski cadangan tersisa tinggal 100.000 ton, Koizumi menegaskan bahwa jumlah tersebut masih cukup untuk menghadapi keadaan darurat, mengingat hanya 40.000 ton yang dilepaskan setelah bencana gempa dan tsunami besar tahun 2011 di timur laut Jepan.
Sc : japantoday







