Program Pemagangan ke Jepang Timbulkan Kritikan Sebagai Kedok Cari Tenaga Kerja dengan Bayaran Murah

Å@äOçëêlãZîé¿èKêßìxÇÃîpé~ÇãÅÇflǃçsÇÌÇÍÇΩÉfÉÇçsêiÅÅÇPÇQì˙åflå„ÅAìåãûÅEè„ñÏ

Cerita dari pemilik pabrik Toshiaki Funakubo, yang putus asa mendapatkan tenaga kerja lokal untuk bekerja di pabriknya akhirnya beralih mendapatkan tenaga kerja dari peserta pelatihan atau pemagangan dari China sejak tahun 2010.

Tak berbeda dengan pekerja lainnya, Toshiaki pun memperlakukannya sama bahkan mengundang para pemagang untuk merayakan tahun baru bersama dan juga jalan-jalan bersama.

Namun meski begitu, Toshiaki percaya bahwa pasokan tenaga pemagangan dari luar negeri terbatas dan tidak akan membuat perusahaan menjadi lebih kuat karena mereka hanya bertahan selama beberapa tahun.

Namun menurutnya, pekerja pemagangan luar negeri harus menerima sistem terpadu dan mengintegritaskan mereka ke dalam masyarakat ketika bekerja di Jepang.

Dalam beberapa tahun mendatang, pemerintah diharapkan dapat meninjau kembali program pemaganagn dari luar negeri yang telah berjalan selama 3 dekade tersebut. Jika berhasil maka akan memungkinkan untuk peserta pemagangan dari luar negeri diperbanyak.

Meski begitu, kritik terhadap program tersebut yang dinilai sebagai cara untuk mendapatkan tenaga kerja dengan bayaran murah menjadi polemik.

Para peserta tidak boleh membawa anggota keluarga dan juga berganti pekerjaan selama mereka kontrak bekerja sebagai pemagang di perusahaan di Jepang. Bahkan setiap tahunnya selalu ada ribuan dari peserta magang yang melarikan diri dari tempat kerja mereka.

Oktober tahun lalu, tercatat ada sekitar lebih dari 352.000 tenaga pemagang yang sedang bekerja di Jepang dimana Vietnam adalah penyumbang terbesar peserta program pemagangan di Jepang.

Bagaimana pun, pemerintah harus segera bertindak agar citra program pemagangan ke Jepang yang dinilai kedok untuk mendapatkan tenaga kerja murah dapat hilang dengan cara memperbaiki sistem dan menyeimbangkan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja.

Source : KN