Resesi Menikah Kalangan Anak Muda Bikin Ekonomi Jepang Diambang Kekhawatiran di Masa Depan

Berita soal menurunnya angka kelahiran di Jepang memang bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, Jepang memang dikabarkan tengah dihadapkan pada situasi yang sulit akan banyaknya generasi muda yang enggan menikah dan memiliki keturunan.

Hal ini bukan masalah sepele. Hal ini akan berdampak masa depan ekonomi Jepang yang saat ini berada di posisi ke 3 sebagai negara dengan ekonomi besar namun di masa depan bisa turun takhta.

Tak lain tak bukan penyebabnya adalah angka produktif. Jika semakin banyak generasi muda yang enggan untuk menikah dan punya keturunan, tinggal menunggu waktu generasi muda akan menjadi lansia dan tidak produktif lagi.

Jika generasi muda sekarang tak ingin memiliki anak maka akan sangat sedikit usia produktif atau anak muda yang bisa bekerja yang juga menjadi tulang punggung ekonomi  Jepang di masa depan.

Dalam data rilisan terbaru Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan Sosial, ditemukan bahwa tahun 2022, sebanyak 17,3% pria dan 14,6% wanita berusia rentang 18-34 tahun di Jepang mengatakan tak berniat untuk menikah. Bahkan angka ini disebut-sebut tertinggi sejak tahun 1982.

Padahal di tahun 1982, kalangan yang enggan untuk menikah bagi pria hanya 2,3% dan wanita sebesar 4,1%.

Tak tinggal diam, pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan angka kelahiran namun hingga kini tak begitu menunjukan hasil yang signifikan membaik.

Bagaimana pun juga, masalah semacam ini tidak bisa hanya mengandalkan solusi dari pemerintah. Hal ini juga perlu dari dukungan generasi muda sendiri yang menentukan agar Jepang tetap mempertahankan sebagai negara yang produktif dan maju.

Source : republika, mainichi