Survey : Banyak Wanita Korban Pelecehan Seksual di Jepang Tidak Melapor ke Polisi

Pelecehan seksual memang menjadi salah satu kasus yang kerap kali terjadi pada kaum hawa di seluruh dunia tak terkecuali Jepang.

Jepang meski terkenal sebagai negara yang memiliki segudang teknologi namun juga tidak terlepas dari sisi buruk dibaliknya.

Sebuah lembaga survey di Jepang bernama Spring melakukan survey terhadap korban pelecehan seksual di Jepang yang dirilis pada 20 November lalu ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Hasil survey tersebut mengatakan bahwa korban yang mengalami pelecehan seksual hanya kurang dari 30% yang melapor kepada kepolisian.

Survey yang melibatkan setidaknya sebanyak 5899 responden yang pernah mengalami kejadian pelecehan seksual yang dilakukan online pada periode Agustus-September tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan wanita yang mengalami pelecehan seksual di Jepang tidak melaporkan kepada pihak berwajib.

Hasil survey ini langsung diserahkan kepada Kementerian Hukum dan Kehakiman Jepang untuk melakukan revisi aturan mengenai pelecehan seksual.

Hasil jawaban dari responden sebanyak 96,6% yang menjawab adalah wanita dan 63% diantaranya mengaku pernah diraba-raba bawah pakaian, sebanyak 34% diperlihatkan alat kelamin dan sisanya memiliki jawaban yang bervariatif.

Jawaban lain diantaranya adalah penyalahgunaan kelamin yang disisipkan ke mulut, anus, vagina, mencium dan juga masturbasi di depan korban.

Dari hasil survey tersebut hanya sebesar 10,9% responden yang berkonsultasi dengan lembaga perlindungan dan hanya 15,1% yang melaporkan kepada polisi.

Para ahli yang telah berulang kali menunjukan bahwa kasus pelecehan seksual sering kali sulit diungkap karena korban yang dibawa ke tempat khusus, pelaku dan korban saling mengenal, dan jebakan-jebakan lain yang menyulitkan untuk diungkap.

Dibawah undang-undang tentang pidana pelecehan seksual mengatakan bahwa kasus tersebut bisa digugat hingga 10 tahun sejak kasus tersebut terjadi dan ketidaksenonohan dapat digugat maksimal 7 tahun sejak kasus terjadi.

Berdasarkan aturan saat ini, pelaku pelecehan seksual bisa dituntut secara hukum jika terbukti bersalah menyerang atau mengintimidasi korban.

Para responden mengatakan bahwa mereka seringkali ketakutan meski tidak ada penyerangan ataupun intimidasi dari pelaku. Mereka juga mengatakan bahwa mereka mengaku tidak bisa menggerakan tubuh dan sulit menahan serangan dari pelaku karena takut.

Lembaga survey menyerukan agar hasil survey ini dapat menjadi pertimbangan bagi kementerian hukum untuk bisa merivisi undang-undang agar bisa melindungi para korban pelecehan seksual.

Source : mainichi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here