Menu

Dark Mode
Pria Ditemukan Tewas di Dalam Mobil Tertimbun Salju di Toyama Ungkap Fakta Perundungan Lewat Analisis Suara, Pakar Audio di Chiba Berupaya Cegah Tragedi Budaya Diam di Kereta Saat di Jepang: Etika Tak Tertulis yang Dipatuhi Bersama Strategi Atur Waktu Check-in & Check-out Hotel Jepang Biar Liburan Lebih Efisien Kampanye Pemilu Jepang Dimulai, Takaichi Cari Mandat Baru di Tengah Isu Pajak dan Stabilitas Politik Film Live-Action Kedua Mr. Osomatsu Resmi Dijadwalkan Ulang Tayang 12 Juni

Culture

Wagasa: Payung Kertas Tradisional yang Masih Dibuat Manual

badge-check


					Wagasa: Payung Kertas Tradisional yang Masih Dibuat Manual Perbesar

Di tengah hiruk-pikuk Jepang modern yang serba digital, ada satu benda klasik yang tetap memancarkan aura keanggunan masa lampau: wagasa, payung kertas tradisional Jepang. Meski bentuknya sederhana, wagasa menyimpan warisan panjang tentang seni, teknik, dan filosofi hidup masyarakat Jepang yang menghargai detail kecil.

Asal-usul Wagasa: Dari China, Menjadi Ikon Jepang

Wagasa pertama kali diperkenalkan dari Tiongkok berabad-abad lalu. Namun seiring waktu, masyarakat Jepang mengembangkan teknik, desain, dan fungsi yang membuatnya berbeda. Wagasa bukan sekadar alat pelindung dari hujan—di Jepang, ia berkembang menjadi benda budaya yang terkait dengan upacara teh, kabuki, dan tarian tradisional.

Payung ini menjadi simbol kesopanan, keindahan, dan status sosial pada zamannya. Bahkan sampai sekarang, wagasa masih sering muncul dalam festival, foto prewedding kimono, hingga pertunjukan seni.

Dibuat Sepenuhnya dengan Tangan

Yang membuat wagasa istimewa adalah proses pembuatannya yang 100% manual. Tidak ada mesin modern—semuanya mengandalkan keterampilan pengrajin (shokunin) yang dilatih bertahun-tahun.

Secara umum, sebuah wagasa terdiri dari:

  • Rangka bambu yang diukir satu per satu

  • Kertas washi yang kuat dan tahan air

  • Benang katun untuk memperkuat struktur

  • Minyak alami (biasanya minyak biji rami) yang membuatnya tahan hujan

Butuh waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menyelesaikan satu payung. Setiap tahap, dari memilih bambu hingga mengecat pola, dilakukan dengan ketelitian ekstrem—contoh nyata dari filosofi monozukuri, yaitu kebanggaan dalam membuat sesuatu dengan sepenuh hati.

Jenis-Jenis Wagasa

Ada beberapa bentuk wagasa yang fungsinya berbeda-beda:

  • Bangasa (番傘)
    Lebih kokoh, sederhana, dan sering digunakan untuk keperluan sehari-hari.

  • Janomegasa (蛇の目傘)
    Memiliki pola lingkaran menyerupai mata ular—sering dipakai dalam tari tradisional.

  • Higasa (日傘)
    Payung untuk melindungi dari sinar matahari, biasanya lebih tipis dan dekoratif.

  • Maigasa (舞傘)
    Dipakai dalam tarian, dengan desain yang lebih ringan dan artistik.

Setiap jenis punya keindahannya sendiri, dan pengrajin biasanya berspesialisasi pada salah satu bentuk saja.

Makna Estetika dan Simbolik

Dalam budaya Jepang, wagasa lebih dari sekadar alat. Ia melambangkan:

  • Keanggunan tradisional

  • Keseimbangan antara fungsi dan seni

  • Penghargaan terhadap material alami

  • Rasa hormat terhadap alam dan perubahan musim

Gerimis halus, kimono yang mengalir, dan wagasa di tangan seseorang menciptakan gambaran klasik Jepang yang sulit digantikan apa pun.

Wagasa di Era Modern: Antara Seni dan Souvenir

Meski payung modern lebih praktis, wagasa masih bertahan sebagai:

  • Aksesori foto kimono

  • Properti teater dan tari

  • Dekorasi interior

  • Souvenir premium dari Kyoto dan Gifu

Beberapa pengrajin bahkan bekerja sama dengan desainer muda untuk membuat wagasa edisi modern yang tetap setia pada teknik tradisi, tetapi tampil lebih segar.

Simbol Keindahan yang Tidak Tergerus Waktu

Wagasa adalah bukti bahwa tradisi bisa bertahan jika dirawat dengan hati. Ia mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu datang dari hal besar—kadang justru dari detail kecil yang dibuat dengan kesabaran dan ketulusan. Di dunia yang serba cepat, wagasa menghadirkan sejenak ketenangan dan nostalgia akan masa ketika manusia dan kerajinan berjalan berdampingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Budaya Diam di Kereta Saat di Jepang: Etika Tak Tertulis yang Dipatuhi Bersama

28 January 2026 - 18:30 WIB

Tidur Larut, Tetap Tepat Waktu: Irama Hidup Orang Jepang Sehari-hari

27 January 2026 - 18:30 WIB

Mengapa Orang Jepang Lebih Nyaman Sendiri di Tempat Umum

19 January 2026 - 19:10 WIB

Nōkanshi: Profesi Sunyi yang Menjaga Martabat di Akhir Hayat di Jepang

10 January 2026 - 18:30 WIB

Mengapa Orang Jepang Melepas Sepatu Bahkan di Sekolah dan Kantor

9 January 2026 - 11:30 WIB

Trending on Culture