Menu ✖

Dark Mode
Anime Macross Frontier Akan Rilis Blu-ray Deluxe Edition pada 2027 Mobil Berdiplomatik Rusia Tabrakan di Depan Kementerian Luar Negeri Jepang, Empat Orang Terluka Film Anime Gundam Seed FREEDOM ZERO Tayang Januari 2027 di Jepang, Trailer Terbaru Dirilis Sambut Hari Godzilla, Stasiun Hibiya Tokyo Akan Putar Lagu Tema Godzilla Sebelum Kereta Berangkat Data Paspor Ratusan Pelanggan H.I.S. Diduga Bocor, Dua Perusahaan Jepang Umumkan Kebocoran Data Kasus WNI di Yamanashi Jepang Yang Tusuk Rekan Kerja Divonis 2 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan

News

3 dari 4 Guru di Jepang Tetap Bekerja di Akhir Pekan, Mayoritas Membawa Pulang Pekerjaan

badge-check


					3 dari 4 Guru di Jepang Tetap Bekerja di Akhir Pekan, Mayoritas Membawa Pulang Pekerjaan Perbesar

Tiga dari empat guru di Jepang mengaku tetap bekerja di akhir pekan, sementara 71% lainnya membawa pulang pekerjaan untuk diselesaikan di rumah. Hal ini terungkap dalam survei terbaru mengenai kondisi kerja yang dilakukan serikat guru nasional.

Survei ini dilakukan secara daring oleh All Japan Teachers and Staffs Union (Zenkyo) antara April hingga Juli, melibatkan 1.200 guru SD, SMP, dan SMA dari 40 prefektur. Fokusnya adalah jam kerja lembur serta pekerjaan tambahan di luar jam sibuk.

Hasilnya, 75% responden bekerja di akhir pekan. Dari jumlah tersebut, 59% bekerja lebih dari satu jam, sementara 17% bahkan lebih dari empat jam. Beban kerja akhir pekan terutama disebabkan oleh kewajiban membina kegiatan klub di SMP dan SMA, serta persiapan pelajaran di SD.

Terkait pekerjaan lembur yang dibawa pulang, 71% guru mengaku melakukannya. Dari angka itu, 40% menghabiskan hingga satu jam, sedangkan 31% lebih dari satu jam. Pekerjaan paling umum adalah mempersiapkan materi pelajaran (59%), disusul urusan administrasi sekolah (24%) serta memeriksa tugas atau ujian siswa (21%).

Hanya 0,9% responden, atau 11 orang, yang menyatakan benar-benar bisa pulang dan datang tepat waktu tanpa bekerja di akhir pekan maupun membawa pekerjaan ke rumah.

Pada sidang Diet tahun 2025, Undang-Undang Pendidikan Sekolah direvisi untuk menciptakan sistem supervising teacher, yakni posisi manajemen menengah baru yang bertugas mengoordinasi guru lain dan membimbing staf muda. Posisi ini dapat diperkenalkan sesuai kebijakan pemerintah daerah.

Namun, Zenkyo membandingkan data Tokyo—yang sudah lebih dulu menerapkan sistem serupa (chief teacher)—dengan prefektur lain. Hasilnya, justru proporsi guru di ibu kota yang membawa pulang pekerjaan lebih tinggi, dengan jam kerja akhir pekan juga lebih panjang.

“Penerapan guru senior tidak otomatis membuat pekerjaan lebih efisien. Pemerintah seharusnya menambah jumlah guru, mendorong kelas dengan jumlah siswa lebih kecil, dan mengurangi beban per guru. Negara harus bertanggung jawab meningkatkan anggaran pendidikan dan memperbaiki kondisi kerja para guru,” tegas perwakilan Zenkyo.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Anime Macross Frontier Akan Rilis Blu-ray Deluxe Edition pada 2027

9 October 2026 - 18:10 WIB

Mobil Berdiplomatik Rusia Tabrakan di Depan Kementerian Luar Negeri Jepang, Empat Orang Terluka

9 October 2026 - 15:10 WIB

Sambut Hari Godzilla, Stasiun Hibiya Tokyo Akan Putar Lagu Tema Godzilla Sebelum Kereta Berangkat

8 October 2026 - 14:10 WIB

Data Paspor Ratusan Pelanggan H.I.S. Diduga Bocor, Dua Perusahaan Jepang Umumkan Kebocoran Data

8 October 2026 - 11:10 WIB

Kasus WNI di Yamanashi Jepang Yang Tusuk Rekan Kerja Divonis 2 Tahun Penjara dengan Masa Percobaan

8 October 2026 - 10:10 WIB

Trending on News