Situs informasi restoran Jepang Hot Pepper baru-baru ini merilis hasil survei tahunan yang menanyakan warga Tokyo area tentang kawasan favorit mereka untuk pergi minum. Hasilnya, Shinjuku kembali menempati posisi teratas untuk tahun keenam berturut-turut, diikuti area sekitar Stasiun Tokyo di posisi kedua dan Ginza di posisi ketiga.
Namun, kejutan terbesar datang dari Shibuya — salah satu distrik paling terkenal di dunia — yang turun peringkat hingga keluar dari 10 besar, dan kini hanya berada di posisi ke-12, bahkan kalah dari Omiya di Prefektur Saitama, wilayah yang sering dianggap kurang modis oleh warga Jepang.
🏙️ 12 Kawasan Teratas untuk Pergi Minum
-
Shinjuku (Tokyo)
-
Area Stasiun Tokyo (Tokyo)
-
Ginza (Tokyo)
-
Shinbashi (Tokyo)
-
Ueno (Tokyo)
-
Area Stasiun Yokohama (Kanagawa)
-
Ikebukuro (Tokyo)
-
Ebisu (Tokyo)
-
Minato Mirai (Kanagawa)
-
Akasaka Mitsuke (Tokyo)
-
Omiya (Saitama)
-
Shibuya (Tokyo)
Sebanyak 2.858 responden berusia 20 hingga 59 tahun dari Tokyo dan prefektur sekitarnya (Kanagawa, Chiba, Saitama) berpartisipasi dalam survei ini.
📉 Mengapa Shibuya Turun Daftar?
Menurut para peneliti dari Hot Pepper, ada beberapa faktor yang menjelaskan kemerosotan popularitas Shibuya:
-
Kurangnya area bawah tanah yang terintegrasi dengan hiburan.
Tidak seperti Shinjuku atau Stasiun Tokyo yang memiliki kompleks bawah tanah penuh restoran dan izakaya, terowongan bawah tanah Shibuya lebih berfungsi sebagai jalur penghubung luar tanpa banyak tempat makan di dalamnya. Ini membuatnya kurang nyaman bagi kelompok besar yang ingin langsung mencari tempat minum. -
Kurangnya identitas kawasan yang jelas.
Shinjuku memiliki sub-kawasan dengan karakter kuat seperti Kabukichō (bar dan hiburan malam), Sanchōme (tempat modis untuk wanita muda), dan area bar sederhana untuk pekerja kantoran.
Sebaliknya, Shibuya kini dianggap terlalu “campur aduk”: ada kafe remaja, kantor profesional, dan toko suvenir turis — semuanya dalam satu area — sehingga tidak ada suasana khas yang mendefinisikan Shibuya sebagai tempat nongkrong tertentu. -
Berkurangnya pekerja kantoran yang nongkrong sepulang kerja.
Banyak perusahaan besar di Shibuya berasal dari sektor IT, di mana sistem kerja hybrid atau work-from-home masih umum. Karyawan di bidang ini juga dikenal lebih introver dibanding pekerja di dunia sales, sehingga jumlah orang yang nongkrong setelah kerja pun menurun. -
Fenomena overtourism.
Meningkatnya jumlah turis asing di Shibuya juga memengaruhi persepsi warga lokal. Komentar seperti “Sekarang di Shibuya lebih banyak orang asing daripada orang Jepang” sering terdengar, dan dengan nilai yen yang lemah, harga-harga di Shibuya juga dianggap semakin mahal dan turistik.
🗾 Tren yang Serupa dengan Kyoto
Fenomena ini mirip dengan penurunan daya tarik Kyoto bagi wisatawan domestik Jepang — bukan berarti orang Jepang berhenti datang ke sana, tapi suasananya kini dianggap terlalu turistik dan tidak lagi seotentik dulu.
Dengan kondisi ini, tampaknya Shibuya masih ramai oleh wisatawan asing, namun semakin jarang menjadi pilihan utama warga Jepang untuk nongkrong dan minum santai seperti dulu.
Sc : bussinesinsider







