Menu

Dark Mode
Toyota Perkuat Peran di Joby Aviation, Dorong Produksi Taksi Udara Lewat Sistem TPS Resmi Dihentikan, Anime Terminator Zero Tak Akan Berlanjut ke Season Berikutnya Kata Jepang yang Dipakai Saat Memesan Minuman Pekerja Tewas Terbakar dalam Tradisi Pembakaran Padang Rumput di Yamaguchi Jepang Minta Data Kewarganegaraan Penghuni Asing Rumah Susun, Alasan Evakuasi dan Ketertiban 3 Anak Remaja di Daerah Dotonbori Osaka Jadi Korban Penusukan, 1 Orang Meninggal

Culture

Kotatsu Season: Tradisi Berkumpul yang Hanya Ada di Musim Dingin

badge-check


					Kotatsu Season: Tradisi Berkumpul yang Hanya Ada di Musim Dingin Perbesar

Saat musim dingin tiba di Jepang, ada satu benda yang tiba-tiba kembali menjadi pusat kehidupan rumah tangga: kotatsu (炬燵). Meja rendah dengan selimut tebal dan pemanas di bawahnya ini bukan sekadar alat penghangat tubuh, melainkan simbol kehangatan keluarga dan kebersamaan musiman.

Bagi banyak orang Jepang, musim dingin tanpa kotatsu terasa tidak lengkap.


Apa Itu Kotatsu?

Kotatsu adalah meja rendah yang dilengkapi sumber panas di bagian bawah dan ditutup selimut tebal. Orang duduk di sekelilingnya sambil memasukkan kaki ke dalam selimut, menciptakan ruang hangat yang sangat efisien di tengah udara dingin.

Model kotatsu modern menggunakan pemanas listrik, tetapi konsep dasarnya sudah ada sejak zaman Muromachi, ketika arang digunakan sebagai sumber panas.


Kenapa Kotatsu Hanya Muncul di Musim Dingin?

Berbeda dengan pemanas ruangan permanen, kotatsu adalah perabot musiman. Saat musim semi tiba, selimut kotatsu akan disimpan, dan meja kembali berfungsi sebagai meja biasa.

Hal ini mencerminkan budaya Jepang yang sangat peka terhadap musim:
rumah, makanan, hingga kebiasaan hidup berubah mengikuti cuaca.


Kotatsu sebagai Pusat Aktivitas Rumah

Begitu kotatsu dipasang, hampir semua aktivitas berpindah ke sekitarnya:

  • Makan bersama

  • Menonton TV

  • Belajar atau bekerja ringan

  • Mengobrol santai

  • Bahkan tertidur tanpa sadar

Kotatsu menciptakan ruang berkumpul alami tanpa perlu disuruh.


Alasan Kotatsu Begitu Dicintai

Ada beberapa alasan mengapa kotatsu tetap populer meski teknologi pemanas sudah maju:

  • Lebih hemat energi

  • Memberi rasa aman dan nyaman

  • Cocok untuk rumah kecil

  • Menghangatkan tubuh tanpa mengeringkan udara

Kotatsu bukan hanya menghangatkan kaki, tetapi juga menciptakan rasa “rumah”.


Sisi Unik: Kotatsu Trap

Di Jepang, ada istilah tidak resmi bernama “kotatsu-jigoku” atau “jebakan kotatsu”. Begitu masuk ke dalam kotatsu, orang sering malas keluar—bahkan untuk mengambil minum atau menyelesaikan pekerjaan.

Fenomena ini sudah menjadi lelucon budaya yang sangat dikenal, terutama di kalangan anak muda.


Lebih dari Furnitur, Ini Tradisi

Kotatsu mengajarkan bahwa kehangatan tidak selalu datang dari teknologi canggih. Terkadang, kehangatan tercipta dari kedekatan fisik dan kebersamaan sederhana.

Di banyak keluarga, kenangan musim dingin paling kuat justru terjadi di sekitar kotatsu.


Kotatsu di Jepang Modern

Meski apartemen modern semakin kecil dan gaya hidup makin individual, kotatsu tetap bertahan:

  • Muncul di anime dan drama

  • Dijual tiap musim dingin

  • Digunakan oleh mahasiswa dan keluarga

Ia beradaptasi, tapi tidak kehilangan makna.

Kotatsu season bukan hanya soal melawan dingin. Ia adalah ritual musiman yang memperlambat waktu, mengajak orang duduk bersama, berbagi ruang, dan berbagi kehangatan.

Di tengah dunia yang serba cepat, kotatsu mengingatkan satu hal sederhana:
hangat itu seringkali berarti bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Patuh Tanpa Pengawasan: Mengapa Orang Jepang Tetap Mengikuti Aturan

5 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture