Jika berkunjung ke Jepang, satu hal yang sering membuat orang asing heran adalah kebiasaan melepas sepatu, bukan hanya di rumah, tetapi juga di sekolah, kantor, klinik, hingga beberapa restoran dan penginapan. Bagi orang Jepang, kebiasaan ini bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan bagian dari budaya yang sudah tertanam sejak kecil.
Lalu, apa sebenarnya alasan di balik kebiasaan ini?
1. Konsep Bersih dan Kotor yang Sangat Jelas
Dalam budaya Jepang, terdapat pemisahan tegas antara “luar” (soto) dan “dalam” (uchi). Sepatu dianggap membawa kotoran dari luar—debu, lumpur, bakteri—yang tidak boleh masuk ke ruang dalam.
Karena itu, begitu memasuki bangunan, sepatu harus dilepas dan diganti dengan uwabaki (sepatu dalam ruangan) atau sandal khusus. Ini bukan soal estetika, melainkan soal menjaga kesucian dan kebersihan ruang bersama.
2. Lantai Bukan Sekadar Tempat Berjalan
Di Jepang, lantai sering dianggap sebagai bagian aktif dari ruang hidup. Anak-anak bisa duduk, bermain, bahkan makan di lantai. Di rumah tradisional dengan tatami, lantai bahkan harus diperlakukan dengan hormat.
Mengenakan sepatu dari luar dianggap tidak sopan karena “mencemari” ruang yang seharusnya bersih dan nyaman.
3. Pendidikan Disiplin Sejak Usia Dini
Anak-anak Jepang sudah dibiasakan melepas sepatu sejak masuk taman kanak-kanak dan SD. Mereka membawa uwabaki sendiri, merapikannya di rak sepatu, dan bertanggung jawab atas kebersihan kelas.
Kebiasaan ini secara tidak langsung mengajarkan:
-
Disiplin
-
Tanggung jawab
-
Menghormati ruang bersama
Karena sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, praktik ini terasa alami, bahkan di kantor saat dewasa.
4. Kantor sebagai Ruang Bersama, Bukan Sekadar Tempat Kerja
Di beberapa kantor Jepang—terutama perusahaan kecil, kantor tradisional, atau kantor kreatif—melepas sepatu bertujuan menciptakan suasana kerja yang lebih rapi, tenang, dan nyaman.
Dengan tidak memakai sepatu luar:
-
Lantai tetap bersih
-
Ruang terasa lebih “rumah”
-
Pegawai lebih sadar menjaga kerapian
Ini sejalan dengan filosofi Jepang yang menghargai lingkungan kerja sebagai ruang bersama yang harus dijaga bersama.
5. Mengurangi Beban Kebersihan
Karena sepatu dilepas, gedung sekolah dan kantor di Jepang relatif lebih mudah dibersihkan. Bahkan, di sekolah, murid sendiri yang membersihkan ruang kelas setiap hari.
Kebiasaan ini menciptakan pola pikir:
“Kalau ruang ini kotor, itu tanggung jawab kita bersama.”
6. Bukan Sekadar Aturan, Tapi Budaya Kesadaran
Yang menarik, kebiasaan melepas sepatu di Jepang jarang dipaksakan dengan ancaman hukuman. Orang melakukannya karena sadar bahwa:
-
Sepatu bisa mengganggu orang lain
-
Kebersihan adalah bentuk rasa hormat
-
Ketertiban membuat semua orang nyaman
Inilah yang membuat budaya ini bertahan kuat, bahkan di era modern.
Bagi orang Jepang, melepas sepatu di sekolah dan kantor bukan hal aneh atau merepotkan. Justru sebaliknya, itu adalah simbol kesadaran sosial, penghormatan terhadap ruang, dan disiplin kolektif.
Dari kebiasaan sederhana ini, kita bisa melihat bagaimana budaya Jepang membentuk perilaku masyarakatnya—dimulai dari hal kecil, dilakukan konsisten, dan dijaga bersama.










