Dalam kasus sengketa perundungan di sekolah, kebenaran sering kali tertutup oleh klaim yang saling bertentangan. Dalam beberapa kasus, anak-anak bahkan mengakhiri hidup mereka sebelum tanggung jawab benar-benar dapat ditetapkan.
Di Prefektur Chiba, sebelah timur Tokyo, seorang analis audio mencoba mengungkap fakta-fakta yang sulit dipastikan oleh pihak sekolah maupun otoritas, dengan memanfaatkan rekaman suara.
Mutsutoshi Muraoka menjalankan Chiba Audio Communication Lab, tempat ia menganalisis berbagai rekaman audio untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam insiden yang diperselisihkan, termasuk kasus perundungan.
Dengan meneliti suara yang terekam melalui alat perekam, kamera pengawas, hingga obrolan suara daring, Muraoka mengatakan bahwa bukti objektif dapat diperoleh — dan dalam beberapa kasus, tragedi bisa dicegah.
“Saya sudah mendengar suara banyak anak tepat sebelum mereka meninggal,” ujar Muraoka.
Ia mengenang sebuah kasus ketika polisi memintanya menganalisis audio dari rekaman kamera pengawas seorang siswi SMP yang melompat hingga tewas. Dari suara benturan, ia mampu memperkirakan posisi tubuh korban saat jatuh.
Pekerjaan ini memberi beban emosional yang berat. “Saya melihat anak saya sendiri dalam diri anak yang menderita itu, dan rasanya tak tertahankan,” katanya. “Kita harus melakukan sesuatu sebelum mereka mengambil keputusan terburuk.”
Muraoka menggunakan teknik seperti penghilangan noise dan analisis sidik suara untuk mengidentifikasi karakteristik serta arah suara. Kemampuan teknis laboratoriumnya membuat permintaan bantuan dari kepolisian dan pengacara di seluruh Jepang terus meningkat.
Permintaan terkait kasus perundungan saja tercatat melebihi 40 kasus sepanjang 2025, melonjak tajam dibandingkan hanya beberapa kasus dua tahun sebelumnya.
Dalam salah satu kasus terdahulu, seorang siswa SMP yang berhenti sekolah akibat perundungan datang meminta bantuan bersama ibunya. Setiap kali ia mencoba kembali ke sekolah, perundungan kembali terjadi. Setelah berdiskusi sebagai keluarga, mereka diam-diam menaruh perekam IC di tas sekolahnya.
Rekaman tersebut menangkap suara yang menyuruhnya untuk mati.
Saat guru menanyai para siswa, anak yang mengucapkan kata-kata itu menyangkal menargetkan korban dan mengklaim itu hanya “candaan antar teman” yang ditujukan kepada siswa lain.
Namun, Muraoka menganalisis tingkat pantulan suara di ruang kelas dan menyimpulkan bahwa suara tersebut diarahkan kepada siswa yang meminta analisis.
Sekolah kerap kesulitan mengambil keputusan hanya berdasarkan kesaksian siswa yang saling bertentangan, dan dalam beberapa kasus gagal bertindak tegas. Dalam situasi seperti itu, menurut Muraoka, analisis audio dapat memberikan kejelasan.
“Rekaman suara menjadi bukti yang mengungkap kebenaran,” katanya.
Muraoka mendorong para orang tua untuk mempertimbangkan perekaman audio sebagai cara melindungi anak-anak mereka, dan anak-anak sendiri untuk melihatnya sebagai upaya melindungi nyawa mereka.
Pada April tahun lalu, Muraoka mendirikan sekolah gratis di Chiba bagi anak-anak yang berhenti mengikuti sekolah reguler akibat perundungan. Sekitar 10 siswa, mulai dari tingkat SD hingga SMP, kini belajar di sana.
Mengelola sekolah tersebut memperluas sudut pandangnya. “Baik pelaku maupun korban adalah sama-sama manusia yang perlu dilindungi,” ujar Muraoka, seraya menambahkan bahwa ia kini lebih memahami kesulitan yang dihadapi guru dalam menangani kasus perundungan.
Perundungan juga meluas ke ruang daring, termasuk gim multipemain. Rekaman ujaran kasar seperti “Kami tidak butuh orang sepertimu” atau “Aku akan mendatangimu ke rumah,” yang diucapkan dalam obrolan suara, juga dianalisis dan digunakan sebagai bukti.
“Bagaimana kita bisa menyelamatkan nyawa yang seharusnya bisa diselamatkan?” kata Muraoka.
Ia terus menghadapi rekaman-rekaman suara setiap hari, menelitinya satu per satu demi mengungkap fakta — dan, ia berharap, mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut.
Sc : JT








