Jumlah orang yang meninggal akibat bunuh diri di Jepang pada tahun 2025 tercatat sebanyak 19.097 orang, berdasarkan data sementara pemerintah yang dirilis pada Kamis. Angka ini menjadi yang pertama kali turun di bawah 20.000 orang sejak statistik tersebut mulai dicatat pada tahun 1978.
Namun di sisi lain, jumlah bunuh diri di kalangan pelajar—mulai dari siswa sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas—mencapai 532 kasus, yang merupakan rekor tertinggi untuk dua tahun berturut-turut sejak data pembanding mulai tersedia pada 1980.
Secara keseluruhan, jumlah bunuh diri turun 1.223 kasus dibandingkan angka final tahun sebelumnya, menurut data Kementerian Kesehatan Jepang yang bersumber dari statistik Badan Kepolisian Nasional.
Dari total tersebut, 13.117 kasus terjadi pada pria dan 5.980 pada perempuan. Sementara itu, tingkat bunuh diri—yang dihitung berdasarkan jumlah kasus per 100.000 penduduk—berada di angka 15,4. Data final akan diumumkan secara resmi pada bulan Maret.
Seorang pejabat Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya kasus bunuh diri di kalangan pria usia paruh baya dan lansia, serta menurunnya jumlah kasus yang dipicu oleh kegagalan usaha dan masalah utang. Menurutnya, kondisi ekonomi kemungkinan turut berperan dalam tren penurunan tersebut.
Meski begitu, lonjakan kasus di kalangan anak dan remaja kembali menyoroti tantangan serius terkait kesehatan mental pelajar di Jepang, yang masih menjadi perhatian besar pemerintah dan masyarakat.
Sc ; nippon








