Banyak orang Indonesia pulang dari Jepang bukan cuma bawa foto dan oleh-oleh, tapi juga kaki pegal, lutut nyeri, bahkan jatuh sakit. Salah satu penyebab utamanya bukan cuaca atau makanan, tapi pace jalan kaki yang terlalu dipaksakan.
Di Jepang, hampir semua aktivitas melibatkan jalan kaki—dari stasiun, pindah peron, naik turun tangga, sampai keliling area wisata. Kalau nggak pintar atur ritme, liburan bisa berubah jadi survival mode. Berikut panduan menyesuaikan pace jalan kaki di Jepang supaya tetap kuat sampai hari terakhir.
1. Sadari Realitanya: Jalan Kaki di Jepang Itu Jauh
Banyak first timer kaget karena:
-
Dari stasiun ke tujuan bisa 10–15 menit jalan kaki
-
Transit kereta sering butuh jalan jauh antar peron
-
Area wisata luas dan jarang tempat duduk
Di peta terlihat dekat, tapi kenyataannya langkah kaki yang kerja keras.
👉 Mindset penting: Jalan kaki di Jepang itu bagian utama perjalanan, bukan selingan.
2. Jangan Ikut Pace Orang Lokal
Orang Jepang terbiasa:
-
Jalan cepat
-
Langkah panjang
-
Hampir tidak berhenti
Kalau kamu memaksakan pace mereka:
-
Napas cepat habis
-
Kaki lebih cepat lelah
-
Risiko cedera meningkat
👉 Strategi aman: Jalan di sisi kiri/kanan, jaga ritme sendiri, dan jangan merasa bersalah melambat.
3. Terapkan Teknik “Jalan Konsisten, Bukan Ngebut”
Kesalahan umum:
-
Jalan cepat di awal
-
Capek di tengah hari
-
Tumbang di sore atau malam
Ganti dengan:
-
Langkah stabil
-
Napas teratur
-
Kecepatan sedang tapi tahan lama
👉 Lebih baik sedikit lambat tapi konsisten, daripada cepat tapi KO.
4. Manfaatkan Eskalator & Lift
Di Jepang:
-
Eskalator dan lift tersedia hampir di semua stasiun
-
Digunakan oleh lansia, ibu hamil, dan wisatawan
Kalau kaki mulai terasa berat:
-
Pilih eskalator
-
Cari lift (ada tanda kursi roda)
👉 Ini bukan manja, tapi strategi bertahan.
5. Sisipkan “Break” Setiap 30–60 Menit
Nggak perlu istirahat lama. Cukup:
-
Berhenti 3–5 menit
-
Duduk sebentar
-
Minum air
Tempat yang cocok:
-
Taman kecil
-
Bangku stasiun
-
Depan konbini
-
Area vending machine
👉 Jepang ramah buat istirahat singkat, asal tidak mengganggu jalan umum.
6. Jangan Remehkan Tangga di Stasiun
Tangga stasiun Jepang sering:
-
Panjang
-
Curam
-
Tanpa pegangan di beberapa titik
Tips:
-
Naik tangga pelan
-
Jangan sambil lari
-
Pegang railing kalau ada
👉 Banyak orang tumbang bukan saat jalan jauh, tapi karena maksa di tangga.
7. Pilih Sepatu yang Sudah “Matang”
Kesalahan fatal:
-
Pakai sepatu baru
-
Pakai sepatu gaya tapi keras
-
Sol tipis tanpa bantalan
Idealnya:
-
Sepatu yang sudah sering dipakai
-
Sol empuk
-
Tidak licin
👉 Di Jepang, sepatu lebih penting dari outfit.
8. Atur Jadwal Jalan Kaki Sesuai Waktu
Pace jalan kaki juga dipengaruhi waktu:
-
Pagi: badan masih segar → cocok jalan agak jauh
-
Siang: panas & capek → pendekkan jarak
-
Malam: energi turun → hindari rute panjang
👉 Tempatkan tujuan terjauh di pagi hari.
9. Dengarkan Sinyal Tubuh
Kalau mulai terasa:
-
Telapak kaki panas
-
Lutut nyeri
-
Pinggang pegal
Itu tanda untuk:
-
Kurangi jarak
-
Duduk
-
Ubah rencana
👉 Di Jepang, mengubah itinerary itu normal, bukan gagal.
Liburan ke Jepang bukan lomba siapa paling cepat atau paling jauh jalan kaki. Kunci bertahan adalah mengatur pace yang sesuai dengan kondisi tubuh sendiri. Dengan langkah stabil, istirahat cukup, dan strategi yang tepat, kamu bisa menikmati Jepang sampai hari terakhir tanpa tumbang di tengah jalan.
Ingat, liburan yang enak itu yang kuat sampai pulang, bukan yang memaksakan diri di hari pertama.










