Menu

Dark Mode
Film Live-Action BLUELOCK Ungkap Pemeran Baru, Tayang di Jepang Agustus 2026 Manga Ladies on Top Diadaptasi Live-Action, Angkat Romansa dengan Peran Gender Terbalik BAKI-DOU: The Invincible Samurai Siap Tayang Global di Netflix, Miyamoto Musashi Jadi Sorotan Cat Rambut hingga Sneakers: Perusahaan Jepang Mulai Longgarkan Aturan Penampilan Demi Bertahan di Era Kekurangan Tenaga Kerja Mario Tennis Fever Resmi Diumumkan! Baby Waluigi Debut Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal

News

Cat Rambut hingga Sneakers: Perusahaan Jepang Mulai Longgarkan Aturan Penampilan Demi Bertahan di Era Kekurangan Tenaga Kerja

badge-check


					Cat Rambut hingga Sneakers: Perusahaan Jepang Mulai Longgarkan Aturan Penampilan Demi Bertahan di Era Kekurangan Tenaga Kerja Perbesar

Perusahaan-perusahaan Jepang dari berbagai sektor industri mulai melonggarkan aturan berpakaian dan penampilan di tempat kerja, menandai perubahan besar dalam budaya kerja yang selama ini dikenal ketat dan seragam. Langkah ini didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menarik dan mempertahankan tenaga kerja, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan menghargai individualitas.

Di sebuah panti jompo khusus bernama Yume no Sono Rian Wakaba di Distrik Itabashi, Tokyo, seorang penghuni memuji warna rambut pink milik pengasuhnya, Yuna Kanasashi, 31 tahun. Kanasashi mewarnai rambutnya mengikuti warna rambut idolanya, Daisuke Sakuma dari grup J-pop Snow Man. Ia mengaku bisa bekerja dengan lebih bersemangat karena tempat kerjanya mengakui jati diri karyawan.

Sejak April 2024, pengelola fasilitas tersebut, Happy Net, secara signifikan melonggarkan aturan berpakaian, terutama soal warna dan gaya rambut. Kebijakan ini diterapkan secara setara bagi laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari upaya menciptakan tempat kerja yang beragam. Menurut manajemen, alasan utamanya adalah krisis kekurangan tenaga kerja di sektor perawatan lansia. Jika lingkungan kerja tidak dibuat lebih menarik dan tingkat resign tidak ditekan, operasional perusahaan berisiko terganggu.

Dampaknya mulai terasa. Ada karyawan yang memutuskan bertahan karena kebebasan mengekspresikan diri, sementara calon pegawai mengaku memilih perusahaan ini justru karena aturan yang lebih santai. Bahkan, Happy Net menerima pertanyaan dari perusahaan lain di industri yang sama yang tertarik menerapkan kebijakan serupa.

Perubahan ini juga merambah sektor transportasi publik yang selama ini identik dengan kedisiplinan tinggi. Tokyo Metro merevisi besar-besaran aturan penampilan bagi petugas stasiun dan awak kereta pada Mei 2025. Kebijakan tersebut dipicu oleh masukan karyawan yang menginginkan fleksibilitas, terutama saat musim panas, serta komitmen perusahaan terhadap prinsip keberagaman dan inklusi.

Aturan lama yang melarang pewarnaan rambut bagi pria, mewajibkan dasi sepanjang tahun, dan melarang sepatu sneakers kini dihapus. Aturan baru berlaku seragam untuk semua gender, dasi menjadi opsional, dan sneakers berwarna gelap diperbolehkan. Rambut panjang kini boleh selama diikat, sementara standar warna rambut mengikuti skala Asosiasi Warna Rambut Jepang, dengan tingkat kecerahan yang lebih longgar.

Seorang petugas stasiun berusia 29 tahun mengaku kini bisa bekerja dengan rambut cokelat terang, memakai sneakers, dan tanpa dasi. Ia merasa lebih nyaman menyeimbangkan gaya pribadi dengan pekerjaan, dan yakin lebih banyak orang akan tertarik bergabung. Meski belum ada komentar dari penumpang, rekan-rekannya justru iri melihat kebebasan tersebut.

Sektor ritel farmasi pun mengikuti tren ini. Fuji Yakuhin, operator jaringan drugstore Seims yang berbasis di Saitama, memperbarui aturan penampilan dengan konsep “genderless dan adil” sejak Juli 2025. Perusahaan menyebut kebijakan ini bertujuan mengakomodasi keragaman, termasuk minoritas seksual.

Kini, warna dan gaya rambut pada prinsipnya bebas, aturan cat kuku dilonggarkan hingga memperbolehkan nail art, pembatasan anting dihapus, dan karyawan diizinkan memelihara janggut, memakai riasan, serta aksesori selama tetap profesional. Seorang konselor kesehatan berusia 24 tahun mengaku sering mendapat pujian dari pelanggan atas kukunya, yang justru meningkatkan semangat kerjanya.

Berbagai perusahaan yang mengadopsi kebijakan ini memiliki keyakinan yang sama: menghormati keunikan individu justru menambah nilai organisasi. Fenomena ini menunjukkan perubahan nyata dalam dunia kerja Jepang, di mana karyawan dapat tampil apa adanya tanpa mengorbankan profesionalisme, menciptakan situasi saling menguntungkan bagi pekerja dan perusahaan.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Valentine di Jepang Kian Sepi? Semakin Banyak Perempuan Pilih Tak Beli Cokelat karena Harga Makin Mahal

10 February 2026 - 10:10 WIB

Toyota Ganti CEO Secara Mengejutkan di Tengah Gejolak Industri Otomotif Global

9 February 2026 - 18:10 WIB

Festival Sakura Ikonik dengan Latar Gunung Fuji Dibatalkan Akibat Overtourism

9 February 2026 - 14:10 WIB

Pemilu Jepang Dimulai, PM Sanae Takaichi Bidik Kemenangan Besar

9 February 2026 - 10:10 WIB

Kampanye Anti-Masjid Diseret ke Arena Politik Jepang, Picu Tuduhan Xenofobia

7 February 2026 - 10:10 WIB

Trending on News