Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pada Rabu bahwa ia menargetkan penangguhan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman selama dua tahun dapat direalisasikan secepat mungkin, setelah melalui pembahasan lintas partai. Pernyataan ini disampaikan menyusul kemenangan telak Partai Demokrat Liberal dalam pemilihan umum.
Berbicara dalam konferensi pers usai kembali terpilih sebagai perdana menteri melalui sidang parlemen pada hari yang sama, Takaichi tidak menyebutkan waktu pasti penerapan kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa partai berkuasa dan oposisi akan mendiskusikan detailnya menjelang musim panas ini.
Koalisi pemerintahan yang dipimpin Takaichi bersama partai-partai oposisi tengah mendorong penurunan tarif pajak konsumsi atas makanan dan minuman, yang saat ini berada di angka 8 persen, sebagai upaya meringankan beban rumah tangga di tengah inflasi yang masih berlanjut.
Takaichi kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan belanja fiskal secara proaktif namun tetap bertanggung jawab, dengan alasan bahwa investasi sangat dibutuhkan untuk manajemen krisis nasional serta pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ia juga menyatakan harapannya agar Bank of Japan dapat mengarahkan kebijakan moneter secara “tepat” guna mencapai stabilitas harga sekaligus mendorong kenaikan upah, melalui koordinasi erat dengan pemerintah.
Ekspektasi terhadap stimulus fiskal tambahan telah mendorong kenaikan harga saham di Jepang. Namun, pada saat yang sama, kekhawatiran meningkat mengenai memburuknya kondisi fiskal negara tersebut, yang dinilai sebagai yang terburuk di antara negara-negara maju.
Meski para pemilih memberikan mandat kuat kepada Takaichi—yang dikenal sebagai tokoh berhaluan keras dalam isu keamanan—dalam pemilu 8 Februari, ia menegaskan bahwa hal itu bukan berarti ia memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan semua kebijakan tanpa batas.
Sebagai ketua LDP, Takaichi tetap menyatakan tekadnya untuk mendorong amendemen Konstitusi Jepang yang berhaluan pasifis, sebuah agenda lama partai konservatif tersebut.
Menanggapi rencana pertemuan puncak dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Takaichi menyampaikan keinginannya untuk memperkuat “hubungan saling percaya” serta meningkatkan kerja sama bilateral di berbagai bidang, termasuk keamanan, ekonomi, dan budaya.
Trump, yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Takaichi menjelang pemilu, mengatakan pada Senin bahwa ia merasa “sangat terhormat” melihat partainya meraih kemenangan besar, serta menyiratkan bahwa dukungannya turut berperan.
Dalam konferensi pers tersebut, Takaichi juga menyatakan bahwa pemerintahannya akan menerapkan kebijakan guna mewujudkan koeksistensi yang “tertib” antara warga Jepang dan penduduk asing di negara itu, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap tantangan akibat bertambahnya jumlah warga asing di Jepang.
Sc : KN








