Menu ✖

Dark Mode
Suntory hingga Nojima Alami Kebocoran Data, Informasi Pribadi Jutaan Pengguna Terdampak Patung Rathalos dan Lagiacrus Monster Hunter Berukuran Asli Bakal Hadir di Mal Jepang Di Jepang, Tak Membayar Biaya Kencan Bisa Disebut Kekerasan Ekonomi Manga Shiba Inu Rooms Diadaptasi Jadi Anime, Tayang Musim Panas 2027 Jepang Resmi Bentuk Badan Baru untuk Tangani Bencana dan Kurangi Risiko Kerusakan Game Attack on Titan 3 Rilis Desember 2026, Hadirkan Cerita Anime dari Awal hingga Akhir

News

Ketemu Jodoh di Dating App Makin Umum di Jepang, Tapi Kasus “Ngaku Jomblo Padahal Sudah Nikah” Ikut Meningkat

badge-check


					Ketemu Jodoh di Dating App Makin Umum di Jepang, Tapi Kasus “Ngaku Jomblo Padahal Sudah Nikah” Ikut Meningkat Perbesar

Aplikasi kencan kini semakin diterima di Jepang sebagai sarana mencari pasangan hidup. Bahkan, banyak pasangan yang berujung menikah setelah bertemu melalui platform tersebut. Namun di balik popularitasnya, kasus penipuan status hubungan—seperti menyembunyikan pasangan atau status pernikahan—juga dilaporkan terus meningkat dan memicu berbagai masalah serius.

Menurut survei yang dilakukan Children and Families Agency pada tahun fiskal 2024, sebanyak 25,1% dari 2.000 responden menikah (usia 30-an ke bawah dan menikah dalam lima tahun terakhir) mengaku bertemu pasangan mereka lewat aplikasi kencan. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan metode perkenalan lain, mengalahkan pertemuan di tempat kerja atau pekerjaan paruh waktu (20,5%), sekolah (9,9%), serta perkenalan dari teman atau saudara (9,1%).

Namun di sisi lain, survei tahun 2024 oleh Omicale Inc., operator situs dukungan pernikahan di Tokyo, mengungkap sisi gelap penggunaan dating app. Dari 1.064 responden berusia 20 tahun ke atas yang pernah menggunakan aplikasi kencan, 77,2% (821 orang) mengaku pernah mengalami masalah atau kesulitan.

Masalah paling umum yang dialami baik oleh pria maupun wanita adalah ketidaksesuaian penampilan dengan foto profil. Selain itu, 6,8% perempuan dan 3,5% laki-laki melaporkan pernah berhubungan dengan pasangan yang mengaku lajang, padahal sebenarnya sudah memiliki pasangan atau bahkan sudah menikah.

Beberapa kasus bahkan berujung ke meja hijau. Dalam satu perkara, seorang perempuan menggugat pria yang ditemuinya lewat aplikasi kencan dan menuntut sekitar 7,8 juta yen (sekitar Rp800 jutaan) sebagai ganti rugi, karena pria tersebut berpura-pura belum menikah. Pada Desember 2025, Tokyo District Court memutuskan pria tersebut bersalah dan memerintahkannya membayar sekitar 1,5 juta yen (sekitar Rp150 jutaan).

Perempuan tersebut menyatakan di pengadilan bahwa ia tidak akan menjalin hubungan seksual jika mengetahui pria itu sudah menikah, dan menilai kebohongan tersebut melanggar hak atas penentuan diri secara seksual (right to chastity). Meski sang pria berdalih bahwa hubungan mereka tidak bertujuan ke arah pernikahan, pengadilan tetap menilai telah terjadi pelanggaran hak dan menyatakan perbuatan tersebut sebagai tindakan melawan hukum.

Dalam kasus lain, seorang perempuan juga mengajukan gugatan 5,5 juta yen (sekitar Rp560 jutaan) terhadap mantan jaksa pria dari Saitama District Public Prosecutors Office, yang ditemuinya melalui aplikasi kencan dan mengaku belum menikah. Perempuan tersebut juga mengklaim hak kesuciannya dilanggar. Pria tersebut dilaporkan telah diberhentikan melalui tindakan disipliner.

Meningkatnya kasus ini menyoroti tantangan baru di balik maraknya penggunaan aplikasi kencan di Jepang, sekaligus memunculkan diskusi hukum dan sosial tentang kejujuran, persetujuan, dan perlindungan hak individu dalam hubungan digital.

Sc : mainichi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Suntory hingga Nojima Alami Kebocoran Data, Informasi Pribadi Jutaan Pengguna Terdampak

4 November 2026 - 10:10 WIB

Di Jepang, Tak Membayar Biaya Kencan Bisa Disebut Kekerasan Ekonomi

3 November 2026 - 13:10 WIB

Jepang Resmi Bentuk Badan Baru untuk Tangani Bencana dan Kurangi Risiko Kerusakan

3 November 2026 - 10:10 WIB

Istana Kekaisaran Jepang Buka Pusat Wisata Baru, Ada Kafe Pertama dan Dek Observasi di Atap

2 November 2026 - 13:10 WIB

Bandara Narita Jepang Berencana Satukan 3 Terminal Jadi Satu Mulai 2030-an

2 November 2026 - 13:10 WIB

Trending on News