Perusahaan kereta api Jepang East Japan Railway Co. (JR East) pada Selasa mengumumkan telah mengembangkan peredam guncangan khusus untuk mengurangi risiko kereta peluru shinkansen keluar dari rel saat terjadi gempa bumi. Perangkat ini menjadi yang pertama dikembangkan di Jepang untuk tujuan tersebut.
Peredam yang disebut damper ini dirancang untuk mengurangi kemiringan atau guncangan ke samping pada kereta ketika terjadi getaran kuat. JR East berencana mulai memasang perangkat ini pada rangkaian shinkansen mulai musim gugur 2027 hingga tahun fiskal 2032 yang berakhir pada Maret 2033.
Pengembangan teknologi ini dilakukan JR East selama beberapa tahun bersama Railway Technical Research Institute, dengan mengambil pelajaran dari kecelakaan pada tahun 2004. Saat itu, sebuah kereta Joetsu Shinkansen keluar dari rel setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Niigata di barat laut Tokyo.
Meskipun tidak ada penumpang maupun awak kereta yang tewas atau terluka dalam insiden tersebut, kejadian itu menjadi kasus pertama dalam sejarah di mana shinkansen anjlok saat sedang beroperasi secara komersial.
Menurut JR East, perangkat damper terbaru ini dapat mengurangi kemungkinan kereta keluar dari rel hingga sekitar 50 persen jika terjadi gempa dengan kekuatan yang serupa.
Survei Pemerintah Jepang: 40% Guru SMP Bekerja Lembur Melebihi Batas Hukum
Secara umum, damper dipasang di antara badan kereta dan bogie (rangka roda) untuk meningkatkan kenyamanan perjalanan dengan meredam getaran. Namun, damper konvensional dinilai belum tentu mampu sepenuhnya menyerap guncangan kuat yang dapat menyebabkan kereta terguncang hebat dan berpotensi keluar dari rel.
Untuk mengatasi hal tersebut, JR East memperkuat damper baru ini dengan menebalkan bagian porosnya, sehingga mampu menahan guncangan yang lebih kuat dibandingkan perangkat sebelumnya.








