Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah negara sekutu untuk mengirim kapal perang guna membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia. Namun, seruan tersebut tidak diikuti oleh Jepang dan Australia.
Permintaan itu muncul setelah ketegangan meningkat dengan Iran, yang sebelumnya menyatakan kemungkinan menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat dan Israel. Trump mengatakan negara-negara yang bergantung pada energi dari kawasan tersebut seharusnya ikut berperan menjaga keamanan jalur pelayaran itu.
“Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka. Itu adalah tempat di mana mereka mendapatkan energi,” ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One, seperti dikutip Associated Press.
Trump sebelumnya meminta para pejabatnya menghubungi sejumlah negara, termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk bergabung dalam koalisi pengamanan jalur pelayaran tersebut.
Namun, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa pemerintah Jepang belum memiliki rencana untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Menurutnya, langkah tersebut harus mempertimbangkan konstitusi Jepang yang membatasi penggunaan kekuatan militer di luar negeri.
“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus mempelajari apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan sesuai kerangka hukum,” ujar Takaichi.
Padahal, Jepang sangat bergantung pada jalur tersebut karena sekitar 95 persen pasokan minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz.
Sikap serupa juga datang dari Australia. Pemerintah negara itu menyatakan tidak akan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut. Menteri Infrastruktur dan Transportasi Australia Catherine King, dari kabinet Perdana Menteri Anthony Albanese, mengatakan bahwa meski jalur tersebut penting, pengiriman kapal perang bukan kontribusi yang diminta dari Australia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada media CBS bahwa beberapa negara telah meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka yang melintas di kawasan tersebut. Ia menyebut sejumlah kapal dari berbagai negara tetap diizinkan melewati Selat Hormuz, meski keputusan akhir berada di tangan militer Iran.
Ketegangan di kawasan ini terus menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis, tempat sebagian besar pengiriman minyak global melewati setiap harinya.








