Bank sentral Bank of Japan memutuskan untuk menahan suku bunga di level 0,75%, dengan Gubernur Kazuo Ueda menyebut ketegangan di Timur Tengah sebagai alasan utama di balik keputusan tersebut.
Keputusan ini diambil dalam rapat kebijakan dua hari yang berakhir Kamis, dan memang sudah diperkirakan oleh pasar.
Menurut Ueda, lonjakan harga minyak akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menciptakan ketidakpastian baru bagi ekonomi global.
Harga minyak mentah Brent bahkan melonjak lebih dari 50% dalam sebulan terakhir, menembus level $110 per barel, yang berpotensi memicu inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi.
Ueda menegaskan bahwa kondisi ini membuat bank sentral sulit menentukan arah kebijakan—apakah harus fokus menekan inflasi atau justru menjaga pertumbuhan ekonomi.
Meski begitu, tidak semua anggota setuju. Salah satu anggota dewan, Hajime Takata, mendorong kenaikan suku bunga menjadi 1%, dengan alasan target inflasi 2% sudah mulai tercapai.
Di pasar keuangan, dampak konflik terlihat jelas:
-
Indeks saham Nikkei 225 sempat anjlok lebih dari 2.000 poin dan ditutup turun 3,4%
-
Nilai tukar yen melemah hingga sekitar ¥159 per dolar AS
Ke depan, arah kebijakan BOJ akan sangat bergantung pada perkembangan global dan kondisi domestik, termasuk hasil kenaikan upah di Jepang. Ueda menyebut tren kenaikan gaji mulai terlihat, terutama di perusahaan besar, namun masih perlu dipantau di sektor usaha kecil dan menengah.
Secara keseluruhan, situasi saat ini menempatkan Jepang dalam posisi sulit: di satu sisi harus mengendalikan inflasi, di sisi lain menghadapi risiko perlambatan ekonomi akibat gejolak global.
Sc : JT








