Menu

Dark Mode
Terminal 1 Haneda Diperluas Seiring Meningkatnya Aktivitas Penerbangan Polisi Gerebek Petinggi Yakuza yang Sedang Berduaan di Hotel Bareng Aktris JAV Mulai November 2026, Sistem Tax Free Jepang Berubah: Wisatawan Harus Bayar Pajak Dulu WN Taiwan Ditangkap di Jepang, Diduga Merusak Batu Peninggalan di Kuil Nara Jepang Lanjutkan Subsidi BBM, Harga Dijaga Sekitar ¥170 per Liter SCANDAL Umumkan Akan Bubar pada 2027

News

El Nino Muncul Lagi, Jepang Waspadai Gelombang Panas Ekstrem dan Dampaknya pada Produksi Beras

badge-check


					El Nino Muncul Lagi, Jepang Waspadai Gelombang Panas Ekstrem dan Dampaknya pada Produksi Beras Perbesar

Fenomena El Nino kembali muncul di Jepang untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir. Para ahli bahkan memperingatkan bahwa fenomena ini berpotensi berkembang menjadi “Super El Nino”, yang dapat memicu gelombang panas ekstrem dan berdampak pada sektor pertanian.

Super El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian timur meningkat hingga 2 derajat Celsius atau lebih di atas rata-rata. Sejak 1949, kondisi ini baru terjadi lima kali.

Meski El Nino biasanya identik dengan musim panas yang lebih sejuk di Jepang, para ahli memperkirakan kondisi tahun ini akan berbeda. Suhu laut yang hangat di sekitar Filipina diperkirakan tetap mendorong terbentuknya tekanan udara tinggi di Pasifik, sehingga udara panas lebih mudah mencapai Jepang.

Badan meteorologi memperkirakan suhu selama Juli hingga September akan berada di atas rata-rata di wilayah Jepang bagian timur, barat, Okinawa, dan Amami.

Gelombang panas tersebut dikhawatirkan kembali menurunkan kualitas beras Jepang seperti yang terjadi pada musim tanam 2023. Saat itu, cuaca ekstrem menyebabkan hasil panen menurun dan harga beras melonjak.

Akibatnya, semakin banyak petani mulai beralih ke varietas padi yang lebih tahan panas, seperti Niji no Kirameki.

Seorang petani beras di Prefektur Ehime, Koji Nishimoto, mengaku ikut mengganti varietas padinya tahun ini.

“Saya khawatir dengan panas ekstrem, tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan. Banyak petani di sekitar saya juga mulai beralih ke varietas yang lebih tahan panas,” ujarnya.

Selain mengancam produksi beras, para ahli juga memperingatkan bahwa suhu ekstrem dapat memengaruhi hasil pertanian lain serta sektor perikanan.

Mereka juga mengingatkan pentingnya upaya mengurangi emisi karbon dan beradaptasi terhadap cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Sc : JT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Terminal 1 Haneda Diperluas Seiring Meningkatnya Aktivitas Penerbangan

26 August 2026 - 18:10 WIB

Polisi Gerebek Petinggi Yakuza yang Sedang Berduaan di Hotel Bareng Aktris JAV

26 August 2026 - 16:14 WIB

Mulai November 2026, Sistem Tax Free Jepang Berubah: Wisatawan Harus Bayar Pajak Dulu

26 August 2026 - 16:14 WIB

WN Taiwan Ditangkap di Jepang, Diduga Merusak Batu Peninggalan di Kuil Nara

26 August 2026 - 12:10 WIB

Jepang Lanjutkan Subsidi BBM, Harga Dijaga Sekitar ¥170 per Liter

26 August 2026 - 10:10 WIB

Trending on News