Banyak warga asing di Prefektur Kumamoto, Jepang, diduga kesulitan mendapatkan informasi setelah gempa berkekuatan M7,1 melanda wilayah tersebut pada 28 Juli lalu.
Menurut hasil penghitungan Kyodo News, hanya 3 dari 19 pemerintah daerah di wilayah yang terdampak gempa yang memiliki layanan khusus untuk menyampaikan informasi bencana kepada warga non-Jepang.
Padahal, berdasarkan data pemerintah, sekitar 31.000 warga negara asing tinggal di Prefektur Kumamoto per 1 Januari 2026.
Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan bagi pemerintah daerah Jepang dalam memberikan informasi dan bantuan kepada warga asing saat bencana, terutama karena kendala bahasa.
Gempa tersebut mencapai intensitas maksimum 7 pada skala seismik Jepang di Kota Uki dan Desa Hikawa. Sebanyak 38 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Pemerintah Kota Kumamoto telah mengaktifkan layanan email darurat khusus warga asing. Layanan tersebut dibuat berdasarkan pengalaman dari gempa besar yang melanda Kumamoto 10 tahun lalu, ketika sejumlah warga asing kesulitan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.
Sejak gempa 28 Juli, sekitar 680 orang yang terdaftar dalam sistem tersebut telah mendapatkan sertifikat kerusakan akibat bencana. Kota Kumamoto juga membuka tempat pengungsian khusus warga asing di Kumamoto City International Center, yang sempat digunakan oleh sekitar 20 orang.
Sementara itu, Kikuyo, wilayah yang menjadi lokasi pabrik Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), telah membuka akun media sosial yang menyampaikan informasi menggunakan bahasa Jepang sederhana. Yatsushiro juga menyediakan halaman khusus berisi informasi mengenai tempat evakuasi dan bantuan kebutuhan dasar.
Namun, wilayah yang paling terdampak, yaitu Uki dan Hikawa, belum memiliki layanan informasi bencana yang secara khusus ditujukan kepada warga asing.
Bahkan di tiga daerah yang sudah memiliki layanan tersebut, kendala bahasa masih menjadi masalah.
Seorang warga negara Vietnam di Yatsushiro bahkan harus mendapatkan makanan dan minuman dari sesama warga Vietnam setelah memperoleh bantuan melalui kenalannya.
Seorang petugas tempat pengungsian di Yatsushiro mengatakan pihaknya sebenarnya ingin menyalurkan bantuan kepada sebanyak mungkin orang, tetapi masih kesulitan memastikan seluruh warga mengetahui informasi mengenai bantuan yang tersedia.
Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena warga asing yang tidak memahami bahasa Jepang dengan baik dapat menjadi kelompok yang lebih rentan saat terjadi bencana.
Sc : maincihi








