Harga 4.923 produk makanan dan minuman di Jepang diperkirakan akan naik pada September 2026. Jumlah tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun.
Pengunjung Kastel Kumamoto Turun Separuh Usai Gempa Dahsyat
Menurut survei Teikoku Databank terhadap 195 produsen makanan besar, kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya harga minyak mentah dan nafta akibat krisis di Timur Tengah. Nafta merupakan bahan baku yang digunakan untuk memproduksi plastik, sehingga kenaikan harganya turut meningkatkan biaya bahan kemasan.
Selain itu, kenaikan biaya tenaga kerja dan logistik, serta harga barang impor akibat pelemahan yen, juga mendorong perusahaan menaikkan harga produk.
Produk bumbu menjadi kategori dengan jumlah kenaikan harga terbesar pada September, yaitu 1.959 item, termasuk produk seperti kecap dan cuka. Sementara itu, 1.848 produk makanan olahan juga akan mengalami kenaikan harga, termasuk sejumlah makanan beku.
Sepanjang tahun 2026, jumlah produk makanan dan minuman yang mengalami kenaikan harga diperkirakan akan melampaui angka tahun lalu yang mencapai 20.609 item. Lebih dari 3.000 produk juga diperkirakan akan mengalami kenaikan harga pada Oktober.
Meski sejumlah jaringan minimarket besar baru-baru ini menurunkan harga beberapa jenis onigiri, kenaikan biaya tenaga kerja dan logistik diperkirakan masih akan berlanjut. Karena itu, penurunan harga secara luas di sektor makanan dinilai masih sulit terjadi.








