Menu

Dark Mode
Pria WNI Ditangkap di Jepang karena Diduga Menyusup ke Rumah Kosong untuk Mencuri Buron 7 Tahun, Pria Jepang Ditangkap atas Kasus Pembunuhan Wanita di Roppongi Gempa M6,2 Guncang Hokkaido, Jepang, Tanpa Peringatan Tsunami Harga Japan Rail Pass Naik Lagi Mulai Oktober 2026, Ini Rinciannya Light Novel Arafō Kenja no Isekai Seikatsu Nikki Resmi Dapat Adaptasi Anime Robot AI Tenis Meja Buatan Sony Mampu Saingi Kemampuan Atlet Profesional

News

Seven & i Holdings Tunjuk CEO Asing Pertama di Tengah Upaya Mencegah Akuisisi

badge-check


					Seven & i Holdings Tunjuk CEO Asing Pertama di Tengah Upaya Mencegah Akuisisi Perbesar

Seven & i Holdings Co. mengumumkan pada Kamis bahwa mereka telah menunjuk Stephen Dacus, seorang direktur independen, sebagai CEO baru. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui pembelian kembali saham besar-besaran dan restrukturisasi guna mencegah upaya akuisisi oleh pesaing asal Kanada.

Dacus, yang sebelumnya menjabat sebagai CEO operator ritel Seiyu Co. dan pernah bekerja di Walmart Inc., akan menggantikan Ryuichi Isaka. Jika disetujui dalam rapat pemegang saham pada 27 Mei, ia akan menjadi CEO asing pertama di Seven & i. Sementara itu, Isaka akan beralih menjadi penasihat senior di perusahaan yang mengoperasikan jaringan 7-Eleven di Jepang, Amerika Utara, dan berbagai negara lainnya.

Pergantian kepemimpinan ini terjadi setelah keluarga pendiri Seven & i menarik rencana manajemen buyout (MBO) yang dimaksudkan untuk menghalangi akuisisi senilai $47 miliar dari perusahaan ritel Kanada, Alimentation Couche-Tard Inc. Keluarga tersebut terpaksa membatalkan rencana tersebut karena kurangnya minat dari investor.

Pada hari yang sama, Seven & i mengumumkan rencana pembelian kembali saham senilai 2 triliun yen ($13 miliar), yang setara dengan lebih dari sepertiga kapitalisasi pasar perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan harga saham dan nilai pasar perusahaan.

Selain itu, Seven & i juga menyetujui penjualan unit supermarket Ito-Yokado kepada perusahaan ekuitas swasta Bain Capital seharga 814,7 miliar yen. Perusahaan juga berencana mencatatkan bisnis 7-Eleven di pasar saham Amerika Serikat pada tahun 2026.

Penjualan bisnis supermarket yang bukan inti serta hasil dari pencatatan saham tersebut akan digunakan untuk mendanai pembelian kembali saham. Seven & i terus melakukan restrukturisasi untuk lebih fokus pada bisnis inti mereka, yaitu convenience store, guna meningkatkan nilai perusahaan.

Sebagai bagian dari reformasi, perusahaan juga akan menjual sebagian kepemilikannya di Seven Bank Ltd. untuk mendekonsolidasi anak usaha perbankan tersebut.

“Kita harus terus maju ke masa depan dan membangun fondasi kesuksesan yang telah kita miliki,” kata Dacus dalam konferensi pers. Ia juga menambahkan bahwa Seven & i akan tetap berkomunikasi dengan Couche-Tard, tetapi menekankan bahwa akuisisi tersebut akan menghadapi tantangan regulasi besar di Amerika Serikat.

Sementara itu, Isaka menyatakan bahwa Dacus memiliki pengalaman luas di industri ritel dan berharap ia dapat meningkatkan harga saham perusahaan, yang pada akhirnya bisa memperumit upaya akuisisi Couche-Tard.

Isaka telah memimpin Seven & i sejak 2016, menggantikan Toshifumi Suzuki, sosok yang membawa merek 7-Eleven ke Jepang dan menjadikannya salah satu jaringan convenience store paling sukses di dunia.

Selama kepemimpinannya, Isaka memimpin berbagai upaya restrukturisasi, termasuk menjual unit department store dan merencanakan pemisahan unit supermarket perusahaan.

Dacus bergabung dengan Seven & i sebagai direktur independen pada 2022 setelah menjabat berbagai posisi eksekutif di perusahaan Jepang, seperti Fast Retailing (pemilik Uniqlo) dan operator restoran sushi conveyor belt Sushiro.

Seven & i sebelumnya mengungkapkan bahwa mereka menerima proposal akuisisi dari Couche-Tard pada Agustus tahun lalu, dengan tawaran yang melebihi 7 triliun yen.

Untuk menghalangi akuisisi tersebut, Wakil Presiden Seven & i, Junro Ito—putra pendiri perusahaan—bersama dengan Ito-Kogyo Co., yang mengelola aset keluarga, berusaha menjadikan perusahaan privat melalui MBO. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan karena kesulitan dalam menggalang dana.

Rencana buyout tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 9 triliun yen, yang menjadikannya MBO terbesar dalam sejarah Jepang. Beberapa perusahaan, termasuk Itochu Corp. dari Jepang dan Charoen Pokphand Group dari Thailand, sempat didekati untuk memberikan dukungan finansial bagi keluarga pendiri.

Sc : KN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pria WNI Ditangkap di Jepang karena Diduga Menyusup ke Rumah Kosong untuk Mencuri

27 April 2026 - 10:10 WIB

Buron 7 Tahun, Pria Jepang Ditangkap atas Kasus Pembunuhan Wanita di Roppongi

27 April 2026 - 10:10 WIB

Gempa M6,2 Guncang Hokkaido, Jepang, Tanpa Peringatan Tsunami

27 April 2026 - 06:55 WIB

Harga Japan Rail Pass Naik Lagi Mulai Oktober 2026, Ini Rinciannya

24 April 2026 - 17:10 WIB

Jepang Mulai Jual Senjata ke Luar Negeri, Indonesia Bakal Jadi Target Market?

24 April 2026 - 07:17 WIB

Trending on News