Menu

Dark Mode
Kagoshima Subsidi Penuh Tiket Shinkansen untuk Turis Asing, Tuai Kritik Publik Film Anime Perdana Chiikawa Tayang 24 Juli, Angkat Arc “Pulau Putri Duyung” Drama Live-Action Solitary Gourmet Umumkan Season 11, Tayang April 2026 Trailer Eksklusif One Piece Live-Action Season 2 Dirilis, Tayang 10 Maret di Netflix Angka Kelahiran di Jepang Anjlok ke 705 Ribu pada 2025, Terendah Sejak 1899 Kyoto Siapkan Tarif Bus Lebih Mahal untuk Turis, Bisa Dua Kali Lipat dari Warga Lokal

Culture

Aomori Nebuta Matsuri: Parade Lentera Raksasa yang Spektakuler

badge-check


					Aomori Nebuta Matsuri: Parade Lentera Raksasa yang Spektakuler Perbesar

Setiap musim panas di utara Pulau Honshū, tepatnya di Prefektur Aomori, langit malam berubah menjadi lautan cahaya dan warna. Ratusan ribu orang berkumpul untuk menyaksikan salah satu festival paling spektakuler di Jepang — Aomori Nebuta Matsuri (青森ねぶた祭り).

Festival ini bukan sekadar parade lentera raksasa, tapi juga wujud semangat rakyat Aomori yang diwariskan dari generasi ke generasi.


🎐 Asal-Usul Nebuta Matsuri

Asal-usul Nebuta Matsuri tidak diketahui secara pasti, tetapi banyak yang percaya bahwa festival ini berasal dari ritual pengusiran roh jahat dan rasa kantuk pada musim panas.
Kata “Nebuta” sendiri mungkin berasal dari kata “nemuri” (眠り) yang berarti tidur, dan “nagashi” (流し) yang berarti mengalirkan atau melepaskan — jadi secara harfiah berarti “mengusir rasa kantuk”.

Tradisi ini berkembang menjadi pawai lentera raksasa yang menampilkan tokoh-tokoh dari legenda, samurai, atau makhluk mitologis Jepang.


🏮 Lentera Raksasa yang Jadi Ikon

Bagian paling menakjubkan dari festival ini adalah “Nebuta” — lentera raksasa yang terbuat dari rangka kawat, kertas washi, dan diterangi dari dalam.
Setiap Nebuta bisa mencapai tinggi 5 meter dan panjang 9 meter, benar-benar megah dan penuh detail.

Setiap tahun, para seniman lokal (Nebuta-shi) menghabiskan berbulan-bulan untuk merancang dan membangun lentera ini. Hasilnya? Karya seni tiga dimensi yang menakjubkan, penuh warna, dan memancarkan cahaya hangat di malam hari.


💃 Rakyat Ikut Menari: Haneto!

Selain lentera, daya tarik lain dari festival ini adalah para penari Haneto (ハネト) — peserta yang menari sambil meneriakkan seruan khas:

“Rassera! Rassera!”

Dengan mengenakan pakaian warna-warni dan lonceng kecil di pinggang, mereka menari dengan energi yang luar biasa di sepanjang jalan.
Yang menarik, siapa pun boleh ikut menari selama memakai kostum Haneto resmi — sehingga festival ini terasa sangat inklusif dan meriah!


🎆 Puncak Festival dan Suasana Kota

Festival biasanya berlangsung dari 2–7 Agustus setiap tahun. Selama periode itu, seluruh kota Aomori seolah berubah menjadi panggung besar terbuka.
Musik taiko berdentum, lampu-lampu bercahaya, dan aroma makanan jalanan (yatai) memenuhi udara malam.

Sebagai penutup, pertunjukan kembang api spektakuler di Teluk Aomori menandai akhir dari festival — pemandangan yang benar-benar memukau.


🌸 Makna Budaya di Balik Cahaya

Nebuta Matsuri bukan sekadar hiburan, tetapi juga simbol semangat komunitas dan penghormatan terhadap tradisi.
Di tengah modernisasi, masyarakat Aomori terus menjaga warisan ini agar tetap hidup, membuktikan bahwa seni tradisional bisa terus bersinar di zaman modern.


🏯 Kapan & Di Mana Menyaksikannya

📍 Lokasi: Kota Aomori, Prefektur Aomori, Jepang Utara
📅 Waktu: 2–7 Agustus setiap tahun
💡 Tips: Jika ingin menonton dari tempat duduk resmi, pesan tiket jauh-jauh hari, karena festival ini menarik lebih dari 3 juta pengunjung setiap tahunnya!


Aomori Nebuta Matsuri adalah perpaduan sempurna antara seni, cahaya, musik, dan semangat rakyat Jepang.
Di balik lentera raksasa yang berpendar, tersimpan pesan sederhana:

“Terangi dunia dengan semangatmu, seperti cahaya Nebuta yang tak pernah padam.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mengapa Orang Jepang Jarang Menolak Secara Langsung

18 February 2026 - 09:00 WIB

Budaya Tidak Mengambil Foto Orang Sembarangan di Jepang

13 February 2026 - 13:10 WIB

Budaya Membawa Pulang Sampah Sendiri: Kesadaran Publik ala Jepang

12 February 2026 - 19:00 WIB

Kenapa Rasa Malu Lebih Kuat daripada Hukuman Bagi Orang Jepang

10 February 2026 - 19:10 WIB

Sunyi: Mengapa Lingkungan Perumahan Jepang Terasa Sangat Tenang

6 February 2026 - 18:30 WIB

Trending on Culture